Agar Tak Ada Produk Kedaluwarsa, Pemeriksaan Barang di Ritel Harus Diperketat

Ilustrasi berbelanja di ritel modern (suarantb.com/pexels)

Mataram (Suara NTB)– Sejatinya sudah tidak boleh lagi ditemukan produk atau barang yang sudah kedaluwarsa di swalayan, supermarket atau ritel-ritel modern. Hal itu karena mereka memiliki sistem pengawasan barang yang sudah terstruktur, terlebih di ritel modern yang berjaringan.

Namun, faktanya masih ada sebagian produk kedaluwarsa dan produk tidak layak jual yang ditemukan oleh Tim Satgas Pangan Provinsi NTB saat melakukan sidak di sejumlah swalayan dan ritel modern di daerah ini pekan kemarin.

Iklan
Abdul Azis Bagis (Suara NTB/dok)

Ketua Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) NTB Dr. Abdul Azis Bagis mengatakan, merupakan tanggung jawab pengusaha ritel atau swalayan jika masih ada ditemukan produk kedaluwarsa di rak-rak pajangan.

“Apalagi kalau sudah menjadi ritel modern, karena di ritel modern, yang melakukan pemeriksaan itu beberapa lapis,” kata Abdul Azis Bagis baru-baru ini.

Menurutnya, ada tiga pihak yang melakukan pengawasan produk yang dijual di toko atau ritel yaitu karyawan toko, suplayer dan supervisor. “Jadi ada tiga lapis. Sehingga kalau sampai ada barang kedaluwarsa itu sangat disayangkan. Itu sebuah kecerobohan. Berbeda halnya dengan toko-toko tradisional, karena mereka tak memiliki sistem pengawasan,” katanya.

Kalaupun ada pengelola ritel yang beralasan barang kedaluwarsa karena muncul Covid-19 dan sempat barang tidak banyak yang keluar gara-gara pernah ada pembatasan sosial, hal itu tidak bisa dibenarkan. Karena tanggung jawab tiga pihak ini tetap melekat untuk memberikan pelayanan yang baik kepada konsumen.

“Di saat yang bersamaan kita juga tetap meminta konsumen agar waspada dan cermat saat memilih produk yang dibeli. Namun tiga lapis tadi merupakan tanggung jawab toko dan pihak terkait tadi,” lanjutnya.

Jika konsumen sudah terlanjur membeli barang yang kedaluwarsa, maka konsumen bisa mengembalikannya ke toko serta pihak toko diharuskan untuk menukar dengan produk yang baik. Tentunya pengelola toko diminta terus melakukan pengawasan dan pemeriksaan terhadap semua produk yang dijual, terutama untuk bahan pangan.

Sebagai sebuah langkah preventif agar produk yang dijual tidak ada yang kedaluwarsa, maka ketiga pihak diatas yaitu karyawan toko, suplayer dan supervisor harus berperan efektif. “Karena pemeriksaan barang sudah tiga lapis, maka tidak boleh ada barang yang dijual kedaluwarsa atau produk dengan kemasan rusak,” katanya.

Sebelumnya, Tim Satgas Pangan pekan kemarin melakukan sidak ke sejumlah swalayan, supermarket atu ritel modern di Kota Mataram. Kegiatan ini untuk memastikan produk pangan dan minuman yang dijual masih layak edar.

Dalam razia tersebut tim menemukan beberapa produk pangan dengan kemasan rusak, produk pangan yang sudah kedaluarsa, kemasan penyok, hingga kondisi gudang produk yang masih belum tertata atau bercampur antara produk yang baik dan produk retur serta sebagian gudang belum dilengkapi dengan pallet.

Terhadap temuan diatas tim dilakukan penyisihan, produk-produk yang tidak layak dijual diminta retur (ditarik) dan dikembalikan kepada produsennya. Sementara produk yang sudah kedaluarsa dimusnahkan langsung. Disaksikan secara bersama-sama.

Penanggungjawab swalayan juga membuat dan menandatangani pernyataan untuk tidak lagi menjual produk pangan dan minuman tidak layak jual (kemasan rusak, penyok dan kedaluarsa).

Kepala Dinas Perdagangan Provinsi NTB, Drs. H. Fathurrahman, M. Si mengatakan, razia yang dilakukan untuk memastikan kembali produk-produk yang dijual di pasaran dalam keadaan baik.

Kekhawatiran pemerintah adalah, karena pandemi Covid-19 yang mengakibatkan menurunnya tingkat aktivitas orang, dikhawatirkan ada kelalaian penanggungjawab swalayan terhadap pengawasan produk-produk yang dijajakan. Dan berpotensi mengancam kesehatan, bahkan keselamatan jiwa konsumen. (ris)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here