Agar Petani Tak Beralih, Pabrik Gula Dompu Naikkan Harga Pembelian Tebu

Gubernur NTB, H.Zulkieflimansyah bersama Kapolda NTB, Moh.Iqbal dan Kajati NTB, Nanang Sigit Yulianto saat mengamati gula yang diproduksi PT.SMS beberapa waktu lalu. (Suara NTB/dok)

Mataram (Suara NTB) – PT. Sukses Mantap Sejahtera (SMS) yang memiliki pabrik gula di Kecamatan Pekat Kabupaten Dompu menaikkan harga pembelian tebu petani menjadi Rp440 per Kg di luar biaya transportasi. Semula, harga pembelian tebu sebesar Rp380 per Kg, termasuk biaya transportasi.

Harga itu di luar ongkos, hanya tebu yang dibeli pabrik. Dulu Rp380 harga tebu termasuk ongkos. Sekarang harganya Rp440 harga tebunya saja, kata Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) NTB, Ir. H. Husnul Fauzi, M. Si, dikonfirmasi di Kantor Gubernur, Jumat, 25 September 2020.

Iklan

Dengan naiknya harga pembelian tebu, kata Husnul, maka petani tak akan lagi beralih menanam jagung. Karena menanam tebu jauh lebih menguntungkan dibandingkan menanam jagung.

Ia mengatakan dalam satu haktare, jumlah produksi tebu yang menjadi bahan baku pabrik gula tersebut rata-rata 65 – 75 ton. Sehingga, dalam satu kali panen, petani akan mendapatkan sekitar Rp33 juta. Namun, dalam satu hektare ada juga produksinya sampai 100 ton. Sehingga petani bisa mendapatkan sampai Rp44 juta dalam satu hektare.

Dalam sekali tanam tebu, kata Husnul, petani dapat panen sampai enam kali, baru dilakukan pembongkaran atau penanaman baru. Bahkan, lanjut Husnul, ada yang panen sampai 10 kali, baru melakukan pembongkaran atau menanam tebu yang baru.

Justru karena harga tebu naik, sekarang tak ada pembakaran (lahan tebu) lagi. Oleh karena itu, kita apresiasi kepada pabrik gula. Karena dia juga ada batasan raw sugar (gula mentah). Kalau dia tak bisa memenuhi standar kapasitas pabriknya, maka pabriknya akan nganggur, jelasnya.

Husnul menambahkan, untuk mendukung pasokan bahan baku pabrik gula tersebut, Kementerian Pertanian melalui Ditjen Perkebunan memberikan Bansos bagi petani plasma untuk tanaman tebu seluas 500 hektare tahun ini. Untuk pengembangan tanaman tebu tahun 2021, rencananya akan diberikan bansos untuk 1.000 hektare.

Husnul menambahkan, penanaman tebu bukan saja dilakukan di wilayah Kecamatan Pekat, Kabupaten Dompu. Tetapi akan dikembangkan ke Bima seluas 1.000 hektare. Dari jumlah lahan seluas 1.000 hektare yang direncanakan, sekarang masih di bawah 500 hektare untuk di Kabupaten Bima.

Ia menjelaskan, tebu yang dipanen maksimal harus sampai ke pabrik dalam waktu 24 jam. Sehingga, jika ada wilayah yang radisunya 150 Km dari pabrik, tebu dapat diangkut kurang dari 24 jam. Maka dapat dilakukan penananam di daerah tersebut.

Sebagaimana diketahui, PT. SMS diberikan Hak Guna Usaha (HGU) untuk melakukan penanaman tebu seluas 5.700 hektar. Idealnya, PT. SMS harus menyediakan 10.000 hektar untuk memenuhi kebutuhan pabrik.

Rencananya sampai 2023, pengembangan tanaman tebu di Bima dan Dompu sampai 10.000 hektare. Sekarang, luas areal tanaman tebu masih sekitar 5.000 hektare.

Sehingga kapasitas pabrik itu belum memenuhi standar kapasitas pabrik. Oleh karena itu, mereka terus mengembangkan. Dan pemerintah pusat melalui Ditjen Perkebunan, terus menganggarkan Bansos kepada masyarakat sebagai plasma. Kalau intinya, mereka punya HGU, jelas Husnul.

Pabrik gula PT. SMS dirancang berkapasitas 5.000 tons cane/day (TCD) dan dapat dikembangkan menjadi 10.000 TCD. Pelaksanaan pembangunan sudah dimulai sejak Maret 2014 dan beroperasi pada 2016. Pabrik ini dapat menyerap tenaga kerja untuk sektor inti sekitar 500 orang dan sektor penunjang bisa mencapai sekitar 3.000 orang. Nilai investasinya mencapai Rp1,3 triliun dan satu-satunya di Indonesia Timur. (nas)