Ada Tujuh Karakteristik Penduduk Miskin di NTB

H. Amry Rakhman (Suara NTB/dok)

Pemprov NTB mencatat persentase kemiskinan pada Maret 2020 sebesar 13,97 persen atau 713.887 jiwa. Terdapat tujuh karakteristik penduduk miskin di NTB, salah satunya 88,34 persen berpendidikan SMP ke bawah.

‘’Kalau dipelajari lingkaran setan kemiskinan, ada hubungan kualitas, kapasitas orang, pendidikan orang dengan miskin atau kayanya,’’ ujar Kepala Bappeda NTB, Dr. Ir. H. Amry Rakhman, M. Si dikonfirmasi Suara NTB, Kamis, 17 September 2020.

Iklan

Amry menjelaskan, apabila tingkat pendidikan rendah, maka masyarakat akan kurang produktif. Akibat kurang produktif, maka berpengaruh terhadap rendahnya pendapatan. ‘’Kalau tak ada pendapatan atau kurang pendapatan, maka kemampuan membeli atau konsumsinya rendah,’’ jelasnya.

Rendahnya pendapatan masyarakat akan berdampak terhadap kemampuan daya beli atau tingkat konsumsi. Sehingga akan berpengaruh juga terhadap kesehatan masyarakat yang rendah.

‘’Kalau kesehatan rendah, ndak produktif lagi. Itulah siklus-siklus seperti itu disebut lingkaran setan kemiskinan,’’ terangnya.

Lantas darimana memutus lingkaran setan kemiskinan tersebut? Amry mengatakan, ada yang meyakini peningkatan pendidikan dan keterampilan atau skill menjadi solusi. Meskipun ada orang yang berpendidikan tidak terlalu tinggi, tetapi memiliki keterampilan atau skill maka akan menjadi produktif.

‘’Jadi, pendidikan, keterampilan, bagian penting cara meningkatkan kualitas orang. Supaya dia bisa menggarap pekerjaannya dengan lebih produktif. Itu hubungannya dengan pendidikan,’’ katanya.

Amry mengatakan, butuh waktu untuk memutus lingkaran setan kemiskinan. Langkah yang dilakukan dengan mengkombinasikan peningkatan pendidikan dan keterampilan masyarakat. ‘’Ada orang yang memandang dari pendidikan. Ada orang yang memandang dari kita berikan aset dulu baru bisa produktif. Kita anut dua kombinasi,’’ katanya.

Selain itu, enam lainnya karakteristik penduduk miskin di NTB. Yaitu, 54,7 persen berusia di bawah 25 tahun. Kemungkinan besar adalah anggota rumah tangga yang menjadi tanggungan kepala rumah tangga. Kemudian, tanpa memandang status sebagai kepala rumah tangga, 24,9 persen penduduk miskin berusia produktif, 26 – 45 tahun.

Selanjutnya, 16,91 persen kepala rumah tangga miskin tidak bekerja. Selain itu, usia rata-rata rumah tangga miskin adalah 47 tahun. Dari 794 ribu penduduk miskin pada Maret 2017, sebanyak 51,2 persen tinggal di daerah perdesaan dan 48,8 persen di perkotaan.

Kemudian, 49,61 persen penduduk miskin di NTB bekerja di sektor pertanian dan 6,69 persen di sektor industri. Sedangkan kondisi kemiskinan makro di NTB, sebanyak 76.540 jiwa atau 3,14 persen punya penyakit kronis, 30,71 persen pekerja bebas, 14,02 persen Kepala Rumah Tangga perempuan.

Sebesar 9,05 persen berusia 60 tahun ke atas. Selanjutnya, 8,62 persen berstatus cerai, sebesar 41,20 persen berpendidikan SD ke bawah dan 1,21 persen penyandang disabilitas.

Akibat pandemi Covid-19, Pemprov NTB melakukan penyesuaian target penurunan kemiskinan dalam revisi RPJMD 2019 – 2023. Semula, pada akhir 2023, Pemprov menargetkan angka kemiskinan menjadi satu digit atau 9,75 persen. Namun, target penurunan angka kemiskinan disesuaikan menjadi 10,73 persen pada 2023.

Meskipun angka kemiskinan naik menjadi 13,97 persen pada Maret 2020. Amry mengatakan pada akhir 2020 ini, angka kemiskinan di NTB diperkirakan akan turun menjadi 13,64 persen. Kemudian, pada 2021, angka kemiskinan NTB ditargetkan turun menjadi 12,98 persen. Sedangkan pada 2022, angka kemiskinan di NTB ditargetkan turun menjadi 11,98 persen. (nas)