Ada Pemilik Lahan di Lokasi Smelter Masih Tolak Ganti Rugi

Nampak lokasi smelter yang sudah mulai dipagar oleh perusahaan untuk menjaga aset tersebut.(Suara NTB/ils)

Taliwang (Suara NTB) – Proses pembebasan lahan di lokasi pembangunan smelter PT. AMNT (Amman Mineral Nusa Tenggara) hingga saat ini masih belum ada titik temu. Sebab ada warga pemilik lahan sekitar 62 are yang belum mau menerima besaran ganti rugi yang diajukan oleh perusahaan karena dianggap terlalu rendah. Pemerintah juga sudah melakukan mediasi atas persoalan itu, tetapi tidak kunjung ada kesepakatan.

‘’Saya belum mau menerima besaran ganti rugi, karena harganya tidak cocok dan saya tetap tidak melepas lahan tersebut meski uangnya dititip di pengadilan,’’ ungkap H. Yandri Kinandra, salah satu pemilik lahan kepada Suara NTB, Kamis, 9 September 2021. Bahkan tanah miliknya hanya dihargai Rp5,5 juta per are. Sementara, ia mengklaim lokasi tanahnya sangat produktif untuk menanam padi.

Iklan

Terkait dengan persoalan itu, H.Yandri mengaku sudah dimediasi agar menerima besaran ganti rugi dimaksud. Tetapi ia belum menerimanya. Bahkan tanpa ada kata sepakat antara kedua belah pihak saat ini lokasi tanahnya sudah rata termasuk beberapa tanaman yang ditanam juga tidak masuk dalam kategori ganti rugi.

Sementara terkait rencana pemerintah yang akan menitipkan uang ganti rugi di pengadilan, H.Yandri mengaku siap untuk mengikuti proses hukum. Bahkan saat ini ia mengaku sudah menyiapkan kuasa hukum sebanyak enam orang. Karena pada prinsipnya, persoalan ini harus dijabarkan secara terang benderang supaya tidak ada yang merasa dirugikan.

Kendati demikian, H.Yandri berharap agar ada titik terang terhadap persoalan lahan ini supaya tidak terjadi hal yang tidak diinginkan di kemudian hari. ‘’Saya sudah siapkan enam orang pengacara dalam penyelesaian masalah ini sehingga tidak ada yang merasa dirugikan nantinya,’’ ujarnya.

Sebelumnya, Bupati Kabupaten Sumbawa Barat (KSB), Dr. Ir. H.W.Musyafirin, M.M., mengakui masih ada 63 are lahan yang dijadikan lokasi pembangunan smelter PT. Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT) belum dibebaskan. Dua orang pemilik lahan masih enggan melepaskan tanahnya meskipun akan dibebaskan dengan harga di atas appraisal.

‘’Pembebasan lahan sebenarnya hampir sudah selesai. Cuma di sana ada satu, dua orang punya dua bidang luasnya 63 are dari 172 hektare (lahan inti pembangunan smelter),’’ kata Musyafirin dikonfirmasi di Kantor Bupati KSB, Kamis, 2 September 2021.

Ia menyebutkan, luas lahan inti pembangunan smelter seluas 172 hektare. Hanya saja, masih ada 63 are yang belum dibebaskan karena pemiliknya masih enggan melepaskan lahan tersebut.

Musyafirin mengatakan Pemda terus membangun komunikasi dengan warga. Karena dalam UU Omnibus Law mengatur juga tentang pengadaan tanah untuk proyek strategis. Selain itu, Pemda juga meminta pendapat hukum dari kejaksaan.

“Supaya hal-hal ini tak menjadi penghambat pembangunan kegiatan yang lebih besar. Itu proyek investasinya sampai Rp14 triliun,” ungkapnya.

Jangan sampai pembangunan proyek besar tersebut terhambat gara-gara persoalan lahan yang tersisa 63 are. “Saya mengimbau masyarakat KSB, tak boleh terprovokasi oleh pihak-pihak yang tak bertanggung jawab,” ucapnya.

Bupati menambahkan, saat ini kontrak pembangunan smelter sudah selesai. Rencananya, pada Oktober atau November mendatang, konstruksi pembangunan smelter akan dimulai.

“Bulan Oktober atau November sudah mulai konstruksi. Itu dalam rapat di kantor gubernur yang disampaikan Presiden Direktur AMNT,” terangnya.

Progres pembangunan smelter di KSB mencapai 27 persen dari target 30 persen pada Juli 2021 karena pandemi Covid-19. Pembangunan smelter ditargetkan selesai Juni 2023 dengan kapasitas input produksi 900 ribu ton konsentrat tembaga dengan output 222 ribu ton katoda tembaga.(ils/nas)

AdvertisementJasa Pembuatan Website Profesional