Absensi Sidik Jari Timbulkan Riak di KSB

Taliwang (Suara NTB) – Penerapan absensi sidik jari (finger print) khususnya bagi pegawai yang bekerja di lingkungan KTC menuai pro kontra di kalangan Aparatur Sipil Negara (ASN) setempat. Betapa tidak, ketatnya pengaturan jadwal masuk kerja dengan sistem itu membuat banyak ASN dalam rentang waktu tiga bulan terakhir tercatat tidak memenuhi jam kerjanya.

Imbasnya, selain mereka dinyatakan tidak masuk kerja, para ASN ini mengeluh karena harus juga menanggung konsekuensi terpotong Tunjangan Kinerja Daerah (TKD) yang diterima setiap bulannya.

Iklan

Terkait hal ini, Sekretaris Daerah (Sekda) KSB, Abdul Azis, MH tak menampiknya. Ia menyatakan, di kalangan ASN terjadi riak-riak yang mengeluhkan ketatnya penerapan sistem absensi sidik jari tersebut. “Saya sebagai bagian ASN juga kena sistem itu. Dan ASN kita mulai mengeluhkannya,” katanya kepada wartawan, Kamis, 27 April 2017.

Ia mengatakan, sistem absensi sidik jari ini diterapkan sesuai dengan ketentuan Peraturan Bupati (Perbup). Dan sejak diterapkan awal tahun ini, sistem tersebut belum tertib dilaksanakan seluruh kalangan ASN yang bekerja di SKPD yang sudah menggunakannya. “Ini yang terjadi sementara ini. Makanya ada riak-riak di kalangan pegawai kita,” sebutnya.

Sekda mengungkapkan, dirinya telah melaporkan terkait keluhan para ASN mengenai penerapan sistem absensi sidik jari itu kepada bupati. Bupati sendiri akhirnya memberikan dispensasi, sehingga tiga bulan awal (Januari sampai Maret) hasil absensi sidik jari ASN tidak diberlakukan. “Jadi mereka tetap menerima sepenuhnya TKD mereka dan sudah kita bayarkan untuk tiga bulan. Dan terhitung April ini kita efektifkan hasil absensi sidik jarinya. Tapi kemudian terhadap ketidakdisiplinannya dari hasil absensi sidik jari itu karena sudah ada rekomendasi tetap akan dievaluasi,” tegasnya.

Sistem absensi sidik jari ini masih memiliki kelemahan. Sebab ketatnya jadwal masuk kerja pegawai tidak akan ditoleransi oleh sistem. Padahal fakta di lapangan banyak pegawai yang pada dasarnya tetap bekerja, hanya gara-gara telat melakukan absensi akhirnya sistem mencatatnya tidak masuk kerja.

“Ada pegawai yang rajin kerja tapi tidak rajin absen, tapi ada juga yang rajin absen tapi malas kerja. Mereka ini hanya datang masuk kantor absen tepat waktu lalu meninggalkan kantor. Ke depan ini akan kita evaluasi untuk menutup ruang pegawai yang hanya rajin absen tapi kinerjanya tidak ada,” tandas Sekda. (bug)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here