Abaikan Nilai Luhur, Dewan Nilai Pendidikan Terlalu Berorientasi Hasil

Mataram (suarantb.com) – Mental sebagai orang timur yang lekat dengan nilai-nilai budaya dan moral dalam kehidupan sehari-hari juga harus diwujudkan dalam dunia pendidikan. Nilai-nilai luhur tentang moral harus menjadi yang utama dalam praktik pendidikan di NTB.

Hal tersebut disampaikan oleh anggota Komisi V Bidang Pendidikan DPRD NTB, Saefuddin Zohri, S.Ag. Menurutnya, selama ini pola pendidikan terlalu berorientasi pada hasil di atas kertas dan mengabaikan pada nilai-nilai luhur budaya ketimuran.

Iklan

Kepada suarantb.com, Saefuddin menyebut harus ada upaya dari pemerintah daerah untuk membuat kebijakan pendidikan yang berbasis moral dan budaya bangsa. Supaya dijadikan pedoman dalam pola ajar dan asuh di semua sekolah yang ada di NTB.

Ia menilai, selama ini, kurikulum yang diterapkan oleh pemerintah terlalu mengacu pada kurikulum barat yang sangat mementingkan kepandaian otak. Tetapi luput dari betapa pentingnya peran moral sebagai etika wajib dalam kehidupan berbangsa dan bernegara manusia timur khususnya Indonesia, dimana NTB menjadi bagian di dalamnya.

“Jadi ini bedakan kita dengan barat dalam pendidikan itu. jangan samakan kita dengan orang barat yang hanya mementingkan otak, kita punya nilai-nilai dan budaya sendiri,” ujarnya, Senin, 26 September 2016.

Menurut Zohri, pola pendidikan barat yang selama ini tercermin pada dunia pendidikan sangat berdampak pada cara pandang dan berpikir para siswa. Hal tersebut juga akan berlanjut pada cara mereka memperlakukan lingkungan di sekitarnya. Ia menyatakan, boleh saja mengambil hal-hal yang baik dari pola pendidikan barat, tetapi menyangkut karakter dan jati diri bangsa, jangan sampai memudar karena terlalu didominasi oleh budaya mereka.

“Pendidikan itu identitas bangsa kita. Kita bisa ambil teknologinya, metologinya, tetapi dalam hal-hal karakter kita punya sendiri. Karena kita orang timur punya agama dan adat istiadat sendiri. Dan itu salah satu kegagalan dunia barat,” ujarnya.

Ia mengharapkan pemerintah daerah melalui Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Dikpora) untuk lebih ramah pada moralitas dalam menentukan kebijakan mengenai pendidikan tersebut. Hal itu penting agar sekolah-sekolah dalam pola pendidikannya tidak hanya serius mengembangkan kemampuan berpikir siswa tetapi juga kemampuan dalam merasakan dan menilai sesuatu.

Hal tersebut bisa terwujud dengan menerpakan nilai-nilai moral ketimuran pada dunia pendidikan. Dikatakan, revolusi mental harus diimbangi dengan kebijakan yang bagus dari pemeirntah. Supaya jangan hanya bagus kualitas tetapi tidak memiliki nilai moralitas dan budaya. “Kalaupun ada pendidikan moral dan karakter, hanya shift saja, tidak menjadi pelajaran pokok,” tandasnya. (ast)