99 Persen Korban Kekerasan Seksual dari Keluarga Bermasalah

L. Sukarsana. (Suara NTB/Jun)

Bima (Suara NTB) – Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kota Bima, mencatat 39 kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak selama Januari-September 2021. Paling dominan yakni pencabulan dan persetubuhan. Ironisnya, 99 persen korban berasal dari latar belakang keluarga yang bermasalah.

Kepala DP3A Kota Bima, L. Sukarsana, S. IP., kepada Suara NTB di kantornya, Jumat, 1 Oktober 2021 menyampaikan, dari puluhan kasus tersebut hanya enam perkara kekerasan fisik berupa KDRT. Selebihnya yakni pencabulan dan persetubuhan terhadap anak di bawah umur. “Dominan ini persetubuhan dan pencabulan anak,” ujarnya.

Iklan

Jika melihat data kasus sembilan bulan terakhir ini, ia menilai ada sedikit penurunan dari sebelumnya. Karena sepanjang tahun 2020, tercatat sekitar 70 kasus kekerasan fisik dan seksual. Meski demikian, tindak pidana tersebut harus tetap diwaspadai masyarakat.

Dari 39 kasus yang masuk, kata L. Sukarsana, semuanya dalam pendampingan DP3A melalui UPTD PPA. “Cuma baru tiga kasus yang sudah mendapat putusan inkrah pengadilan, sisanya masih berjalan,” terangnya.

Kekerasan seksual terhadap anak baik berupa pencabulan maupun persetubuhan, menurutnya terjadi karena beberapa persoalan. Salah satunya yakni korban kurang mendapat pengawasan dan kasih sayang dari orang tuanya.

Pengawasan tak diperoleh karena memang kedua orang tuanya memutuskan untuk bercerai.  Sehingga anak tumbuh telantar tanpa pengontrolan.

Menurut Sukarsana, sebagian besar dari pelaku kejahatan ini merupakan orang-orang terdekat korban seperti tetangga, sepupu dan rekan sebaya. “Dari pengalaman asessmen pada korban, ternyata mereka ini berasal dari keluarga yang bermasalah, 99 persen itu. Jadi anak-anak itu tidak mendapat pengawasan dan kasih sayang orang tua, dan pelaku dominan orang dekat korban,” pungkasnya. (jun)

Advertisement Jasa Pembuatan Website Profesional