98 Persen Hotel di NTB Lebih Pilih Tutup

Ilustrasi Hotel (Wikimedia Commons)

Mataram (Suara NTB) – Dibukanya kembali beberapa hotel di tengah pandemi virus Corona (Covid-19) menjadi angin segar bagi sektor pariwisata. Kendati demikian, hal tersebut, belum bisa memberikan progres yang signifikan.

Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) NTB, Lalu Moh. Faozal, S.Sos.M.Si menerangkan, beberapa hotel memang mulai beroperasi sejak difungsikan sebagai lokasi karantina oleh beberapa perusahaan. Namun minimnya tingkat kunjungan wisatawan dan kegiatan meeting, incentive, convention, and exhibition (MICE) yang masih dilarang membuat sebagian besar masih memilih tutup.

‘’Hotel di NTB bukanya terbatas. Kalau dipersentasekan, hotel yang buka cuma 2 persen,’’ sebut Faozal, Jumat, 12 Juni 2020. Hotel yang kembali beroperasi tersebut menurutnya didominasi hotel-hotel berbintang.

Dicontohkan Faozal seperti PT. Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT) yang menyewa beberapa hotel di Kota Mataram sebagai lokasi karantina. ‘’Mereka ada di Puri Indah, Astoria, Lombok Plaza sedikit, Lombok Raya, dan Lombok Garden. Hotel yang lain kebanyakan belum buka,’’ katanya.

Diterangkan, belum meratanya operasional hotel tersebut menjadi perhatian pihaknya. Untuk itu, Standard  Operational Procedure (SOP) pelayanan pariwisata di tengah pandemi Covid-19 diharapkan dapat segera selesai. Sehingga bisa dijadikan rujukan bagi hotel-hotel untuk mulai membuka usahanya.

‘’SOP masih dalam tahap pembahasan detail, finalnya dalam minggu-minggu ini lah,’’ ujarnya. SOP tersebut menurutnya masih menunggu rekomendasi protokol dari Satgas Covid-19 di NTB, terutama menyangkut pelayanan yang akan diberikan.

‘’Terus terang rekomendasi dari gugus tugas Covid-19 di sektor kesehatannya yang kita tunggu. Kan (angka) positif naik terus. Kalau positif naik terus, tidak mungkin kita buka normal semua,’’ katanya.

Terpisah, Ketua Perhimpunan Hotel dan Restauran Indonesia (PHRI) NTB, Ni Ketut Wolini, membenarkan beberapa hotel saat ini dimanfaatkan sebagai lokasi karantina mandiri. Dengan begitu, jumlah hotel yang bisa kembali beroprasi terbilang masih terbatas.

‘’Hanya beberapa saja ada (hotel) yang mulai buka. Itu pun hanya melayani isolasi mandiri,’’ ujar Wolini, Jumat (12/6). Menurutnya, melihat tingkat kunjungan tamu saat ini sebagian besar hotel masih memutuskan untuk tutup sementara.

Menurut Wolini, dari 56 hotel yang terdata menjadi anggota PHRI NTB, jumlah hotel yang membuka kembali usahanya sampai saat ini ada pada persentase 10 persen. ‘’Itu anggota PHRI. Di luar PHRI mungkin belum ada yang buka,’’ jelasnya. (bay)