9 November, Rencana Pembelajaran Tatap Muka Dimulai di Loteng

Ilustrasi aktivitas belajar tatap muka.(Suara NTB/dok)

Praya (Suara NTB) – Pemkab Lombok Tengah (Loteng) memutuskan untuk menggelar pembelajaran secara tata muka di sekolah untuk jenjang pendidikan Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) mulai tanggal 9 November mendatang. Pembelajaran tatap muka ini pun dengan tetap mengedepankan protokol pencegahan Covid-19. Sedangkan untuk tingkat SMA sudah lebih dulu menerapkan pembelajaran tatap muka di sekolah.

“Rencana ini (pembelajaran tatap muka) sudah kita sampaikan ke Bupati Loteng selaku penanggung jawab Satgas Covid-19 dan sudah ada izin. Dengan catatan tetap memperhatikan penerapan protokol Covid-19 secara ketat,” terang Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Loteng, H.Moh. Nazili, S.IP., kepada wartawan, Kamis, 29 Oktober 2020.

Iklan

Ia menjelaskan, pihaknya kini masih punya waktu sekitar seminggu lebih untuk mempersiapkan semua kebutuhan yang ada. Untuk bisa memenuhi standar protokol pencegahan Covid-19. Terutama kesiapan di sekolah-sekolah, sehingga bisa meminimalisir potensi penyebaran Covid-19 di lembaga pendidikan di daerah ini.

“Pada prinsipnya, sekolah-sekolah kita sudah sangat siap untuk menjalankan protokol Covid-19. Tapi tetap perlu kita mantapkan lagi persiapan di sekolah. Supaya sekolah benar-benar siap pada waktu penerapan kebijakan pembelajaran tatap muka di sekolah itu nantinya,” ujar Nazili.

Sesuai SOP (Standar Operasional Prosedur) yang sudah disepakati penerapan pembelajaran secara tatap muka di sekolah akan dilaksanakan dengan pola sif-sifan. Di mana dalam seminggu, siswa akan masuk selama dua hari saja. Misalnya untuk murid SD kelas I dan II masuk hari Senin dan Selasa. Kemudian siswa kelas III dan IV masuk sekolah hari Kamis serta Jumat. Sedangkan siswa kelas V dan VI kebagian masuk hari Jumat dan Sabtu.

Lama siswa berada di sekolah pun dibatasi, paling lama tiga jam pe rharinya. “Jadi siswa masuk dan belajar di sekolah itu hanya tiga jam sehari. Tanpa ada keluar main. Begitu selesai belajar, siswa langsung pulang,” tambahnya. Dengan begitu, dalam seminggu siswa hanya belajar selama 6 jam saja di sekolahnya.

Kebijakan tersebut mau tidak mau hari dilaksanakan. Selain karena kondisi keterbatasn ruang belajar, ditambah keharusan untuk memenuhi standar protokol Covid-19. Karena saat belajar di dalam kelas, siswa diharuskan untuk menjaga jarak sekaligus untuk menghindari keramaian atau kerumunan.

Dengan pola tersebut siswa juga bisa lebih mudah diawasi dan dikontrol.

“Sebelum itu para pengawas sekolah akan kita kumpul terlebih dahulu. Untuk menyamakan persepsi. Supaya tidak ada lagi pertanyaan di kemudian hari. Jadi penerapan kebijakan pembelajaran tatap muka di sekolah bisa seragam di semua sekolah,” pungkas Nazili. (kir)