86 Pelaku Diamankan, Premanisme Modus Uang Keamanan dan Kebersihan

Kapolresta Mataram Heri Wahyudi menunjukkan para pelaku yang terjaring operasi tindak premanisme, Selasa, 15 Juni 2021. (Suara NTB/why)

Mataram (Suara NTB) – Polresta Mataram mengamankan 86 pelaku premanisme dalam satu hari operasi penindakan. Mereka beraksi memalak angkutan umum, menarik biaya parkir ilegal, meminta uang masuk tempat wisata, menagih utang, dan memeras uang pengamanan dan kebersihan pasar.

Mereka ditangkap di kawasan Terminal Mandalika dan Pertokoan Bertais, Sandubaya, Mataram; kawasan pendidikan di Gomong, Selaparang, Mataram; dan kawasan bisnis Cakranegara, Mataram. Tim Puma langsung mengamankan mereka hanya dalam satu hari. “Kita temukan mereka terorganisir dan punya lembaga,” ungkap Kapolresta Mataram Kombes Pol Heri Wahyudi, Selasa, 15 Juni 2021 didampingi Kasatreskrim Kompol Kadek Adi Budi Astawa dan Kadis Perhubungan Kota Mataram M. Saleh.

Iklan

Barang bukti yang diamankan antara lain uang tunai Rp6,7 juta; kwitansi setoran; bukti transfer Rp10 juta; catatan uang pungutan; buku catatan daftar toko. Berbagai modus dijalankan. Rata-rata diduga menggunakan ancaman. Heri mengatakan, satu kasus yang menjadi perhatian yakni premanisme modus penarikan uang kebersihan dan keamanan yang dijalankan Forum Bertais Rembug (FBR). Organisasi ini menagih pembayaran setiap bulan kepada pedagang yang menempati kompleks pertokoan di Bertais.

“Satu toko dimintai Rp150 ribu. Katanya untuk kebersihan, tapi pedagang itu mengeluh tempat mereka tidak dibersihkan walaupun sudah membayar uang yang katanya untuk kebersihan,” jelasnya. Total yang diminta menyetor sebanyak 208 toko. Indikasi pemerasan menurut pasal 368 KUHP tersebut masih didalami. Kaitannya dengan unsur ancaman kepada korban. Apalagi aksi itu dijalankan dengan terstruktur. Heri mengatakan, para pelaku yang diamankan ini masih akan diperiksa lebih lanjut. “Apabila ada pidananya kita akan proses,” sebut Heri.

Terpisah Ketua FBR Hamzah menolak jika kegiatannya selama dua tahun terakhir ini disebut sebagai premanisme. Sebab menurutnya, para pemilik toko diklaim sudah sepakat dengan biaya tertentu itu. “Ini pemberdayaan masyarakat. Kita punya akta pendirian organisasi. Ini kesadaran bersama untuk pelayanan kebersihan dan keamanan karena kita sistemnya pakai Siskamling,” jelasnya. (why)

AdvertisementJasa Pembuatan Website Profesional