812 Rumah Rusak Berat di Mataram Turun Kelas

Sejumlah pekerja (tukang) di Lingkungan Pengempel, Kelurahan Bertais mengerjakan Riko, Kamis, 21 Februari 2019. (Suara NTB/cem)

Mataram (Suara NTB) – Dinas Perumahan dan Pemukiman memverifikasi kembali rehab dan rekon pascagempa. Sebanyak 812 rumah rusak berat turun kelas.

Kepala Dinas Perkim Kota Mataram, H. Kemal Islam menyebutkan, SK dikeluarkan oleh Walikota rumah kategori rusak berat 2.396 unit. Setelah dilakukan validasi oleh fasilitator hanya 1.584 termasuk kategori rusak berat. Dan, 812 unit turun kelas menjadi rusak sedang dan ringan.

Permasalahan di lapangan masyarakat enggan membongkar rumah mereka. Ada kesalahan pendataan serta persoalan lainnya. “Mungkin saat pendataan salah ketik. Ada juga warga tidak mau dibongkar rumahnya karena berpikir rumahnya besar,” kata Kemal.

Proses rehab dan rekon Risha (rumah instans sehat sederhana) dan Riko (rumah instans konvensional) sambung Kemal, selama tiga pekan terkendala pengangkutan. Kendaraan operasional untuk mengangkut panel difokuskan untuk penanganan bencana. Khusus Riko, persoalannya ada dua. Yakni, kesungguhan masyarakat dan tenaga kerja.

Para penyitas bencana tidak mencari tenaga (tukang) dari sekitar kawasan. Mereka memilih mencari di luar sehingga berisiko terhadap biaya. “Dan, jadi kendala masyarakat ongkos tukang yang mahal,” sebutnya. Standar harga dalam rencana anggaran belanja (RAB) kelompok masyarakat Rp110 ribu. Jika mengambil tenaga luar ongkosnya Rp125 ribu perhari.

Kendala lain percepatan rehab dan rekon, Pokmas saling mengandalkan satu tukang. “Bagaimana mau cepat kalau satu kelompok menggunakan tukang secara bergiliran,” jelasnya. Batas penggunaan dana tambah Kemal, pemerintah pusat pasti memiliki kebijakan. Dana rehab dan rekon rumah rusak ringan dan sedang baru ditransfer.

Dia tidak berani menargetkan ribuan rumah selesai hingga kapan. Tidak bisa dipaksakan swadaya masyarakat. “Kalau sampai kapan saya tidak bisa memastikan,” jawabnya. Disinggung progres pembangunan rumah terutama di Lingkungan Pengempel Indah bisa dihitung jari? Disampaikan Kemal, membangun rumah tipe 36 paling tidak membutuhkan biaya Rp75 juta. Menurutnya, dana Rp50 juta dihabiskan dulu. Jangan menunggu waktu selesai.

“Silahkan bangun dulu walaupun hanya atap, dinding dan lantai saja,” ujarnya. Bantuan tenaga dari TNI dan fasilitator akan mempercepat proses rehab dan rekon di Mataram. (cem)