75 Nakes RSUD Sumbawa Diisolasi

Dede Hasan Basri. (Suara NTB/ist)

Sumbawa Besar (Suara NTB) – Sebanyak 75 tenaga kesehatan (Nakes) di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sumbawa menjalani isolasi. Pasalnya, puluhan nakes ini kontak dengan balita berusia 4 tahun asal Kecamatan Sumbawa yang belakangan terkonfirmasi positif dan pasien asal Kecamatan Lunyuk yang hasil tes cepatnya reaktif.

Direktur RSUD Sumbawa, dr. Dede Hasan Basri menyebutkan, 75 tenaga kesehatan yang diisolasi ini terdiri atas 6 dokter spesialis, 10 dokter umum dan selebihnya perawat dan bidang. Dari jumlah tersebut, 64 diantaranya kontak dengan pasien balita dan 11 orang kontak dengan pasien.  Saat ini sudah dilakukan pengambilan sampel swab dan rapid test.

Iklan

“Yang kami isolasi mandiri itu 75 orang. Yang diswab 64 orang (kontak pasien balita) dan di-rapid test 11 orang (kontak pasien Obgin). Mereka diisolasi sejak kemarin. Dan hari ini keluar hasil swab dokter spesialisnya. Hasilnya negatif. Terus untuk perawatnya semuanya besok atau lusa,” ungkapnya kepada wartawan, Selasa, 26 Mei 2020.

Dijelaskannya, pihaknya melakukan isolasi terhadap puluhan tenaga kesehatan bermula dari ketidakjujuran keluarga pasien. Khusus pasien balita, datang ke RSUD tanggal 16 Mei lalu dengan keluhan sakit perut.

Hasil diagnosa, ia mengalami gangguan pada usus sehingga dirawat di sal anak. Setelah proses perawatan selama tiga hari, muncul gejala seperti batuk, pilek dan sesak nafas. Sehingga diperiksa oleh dokter spesialis, dan diduga mengarah ke covid. Belakangan barulah ada pengakuan bahwa pasien tinggal serumah dengan pamannya yang baru pulang dari Jakarta.

Saat itu juga pasien balita itu ditetapkan sebagai Pasien Dalam Pengawasan (PDP). Selanjutnya dirujuk ke rumah sakit di Mataram.

“Keluarga tidak jujur bahwa ada pamannya dari Jakarta. Sehingga dirawat di sini selama tiga hari. Begitu kita rujuk ke Mataram, nyampai Mataram setelah operasi diambil sampel swab. Ternyata hasil swab positif,” ujarnya.

Kemudian terhadap pasien asal Lunyuk, sebut Dede, datang ke RSUD berdasarkan rujukan praktek dari dokter spesialis. Dalam surat keterangannya, dokter merekomendasikan untuk dilakukan rapid test ke IGD.  Namun pasien datang ke Poli dan awalnya tidak memperlihatkan surat dari dokter.

Setelah diperiksa baru diketahui adanya surat untuk dilakukan rapid test. Sehingga langsung diarahkan ke IGD untuk rapid test. Ternyata hasil rapid test reaktif, dan semua tenaga kesehatan yang kontak diisolasi. Terhadap pasien juga sudah dilakukan pemeriksaan swab dan hasilnya negative. Selanjutnya menunggu hasil pemeriksaan swab kedua “Hasil swab pertama pasien negative. Hari ini swab kedua,” jelasnya.

Adapun setelah 75 tenaga kesehatan diisolasi, sambungnya, pelayanan di RSUD Sumbawa tetap berjalan seperti biasa. Karena jumlah karyawan di rumah sakit sebanyak 656 orang. Petugas yang ada mengisi pelayanan untuk mengganti petugas yang telah diisolasi. Sedangkan konsultasi ke dokter spesialis yang diisolasi, bisa melalui telepon atau sistem online melalui WA dan video call.

“Jadi pelayanan di rumah sakit tetap berjalan. Tidak ada jadi tidak ada yang namanya pelayanan itu tidak ada, tetap kami menerima pasien. Kami berharap kepada seluruh masyarakat untuk jujur kepada kami jika datang ke  rumah sakit untuk diberikan pelayanan. Bila ada keluarganya yang datang dari luar tolong jujur disampaikan,” harapnya.

Dengan adanya kejadian ini, ke depannya pelayanan di RSUD akan diterapkan penerimaan pasien opname satu pintu melalui IGD. Pasien juga akan dilakukan rapid test. Apabila ada yang reaktif akan diisolasi ke gedung rumah sakit baru.

“Ke depannya untuk pelayanan yang opname kita pakai satu pintu melalui IGD. Setiap pasien baik mau mengarah ke Covid atau tidak tetap kita rapid test. Sehingga yang masuk ke dalam, mereka clean and clear bebas dari covid. Tidak boleh melalui poliklinik,” tukasnya.

Terkait rapid test sendiri biayanya Rp590 ribu sekali rapid test. Sedangkan untuk pembiayaan pihaknya mengajukan ke Pemda untuk dianggarkan. Karena BPJS tidak menanggung biaya rapid test.

Pihaknya mengimbau kepada masyarakat untuk tidak khawatir berobat ke rumah sakit. Karena semua tenaga kesehatan yang kontak dengan pasien sebelumnya sudah diisolasi dan diganti dengan perawat dan dokter lainnya. Begitu juga ruangan tetap disterilkan setiap ada pasien reaktif yang ditangani.

“Setiap ada yang reaktif di IGD, setelah mereka dirujuk ke RSMA atau lainnya langsung kami sterilkan ruangan baru kita terima pasien lain,” tegasnya. (ind)