71 Tahun Merdeka, Warga Batu Ampar, Sekotong Belum Menikmati Listrik

Gerung (suarantb.com) – Masyarakat di Kota Mataram, saat ini tengah bersiap menyambut Hari Ulang Tahun Kemerdekaan RI ke-71. Namun, di usianya yang sudah cukup panjang, masih cukup banyak warga Indonesia yang belum menikmati arti nyata dari kemerdekaan. Di sejumlah daerah di Sekotong Tengah, Lombok Barat (Lobar) hak-hak dasar sebagai Warga Negara Indonesia tampaknya belum juga mampu dipenuhi pemerintah.

Dusun Batu Ampar, Desa Sekotong Tengah adalah salah satunya. Sabtu, 13 Agustus 2016, suarantb.com mengunjungi daerah ini.

Iklan

Jalan panjang dan berliku harus dilalui untuk mencapai daerah ini. Sementara, malam kian menyelimuti langit Pulau Lombok. Petang menghadirkan kesunyian yang begitu terasa di perjalanan menuju Dusun Batu Ampar yang kabarnya tidak pernah menikmati aliran listrik.

Sepanjang jalan, sekitar dua kilometer sebelum memasuki dusun tersebut, rumah penduduk dapat terhitung dengan jari. Jarak antara rumah warga cukup jauh, hingga suara alam benar-benar dapat dirasakan.

Suara jangkrik yang berpadu dengan senandung suara katak sawah, dan lolongan anjing dari kejauhan seakan menghasilkan suatu melodi nan apik. Kendaraan roda empat, harus diparkirkan sekitar 300 meter dari dusun tersebut. Sebab, jalan setapak memasuki Dusun Batu Ampar hanya dapat dilalui sepeda motor. Namun, pembukaan jalan tersebut rupanya bukan atas uluran tangan pemerintah, melainkan berkat iuran dari masyarakat sendiri.

Memasuki dusun tersebut, tersaji suatu pemandangan yang baru, yakni perumahan yang berbaur dalam pekatnya malam. Hanya remang-remang lampu beberapa rumah yang sejak Januari 2016 kemarin kebagian mesin Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) atas sumbangan Dinas Pertambangan dan Energi Pemerintah Kabupaten Lobar.

  FOTO 4 - 2

Aktivitas warga di Dusun Batu Ampar, Desa Sekotong Tengah. (suarantb.com/szr)

Kepala Dusun Batu Ampar, Sae’un mengatakan, kondisi yang mereka alami pernah disampaikan melalui proposal permohonan tenaga listrik ke pemerintah sejak tiga tahun lalu. Namun, tak kunjung dipenuhi. “Kami sudah coba kirimkan proposal (untuk pengadaan listrik) tapi tidak juga dipenuhi,” ujarnya.

Sekitar 25 Kepala Keluarga (KK) telah menikmati fasilitas PLTS, namun energi tersebut hanya untuk pemasangan balon lampu. Informasi maupun hiburan melalui televisi tidak dapat diakses karena keterbatasan daya. Bahkan sekitar 27 KK masih berselimut gelap tanpa cahaya penerang. “Karena baru Januari 2016 terpasang PLTS, jadi sekitar 27 KK yang belum dipasang,” terangnya.

“Satu rumah dijatahkan satu mesin PLTS untuk empat bola lampu, itu pun untuk aki beli sendiri kalau rusak atau habis, dan harganya sekitar Rp 700 ribu,” tambah Sanusi, salah seorang warga desa.

Tidak hanya listrik, untuk mendapatkan air bersih masyarakat harus menempuh setengah kilo perjalanan. Itu pun harus melangkahkan kaki dengan kondisi jalan yang cukup memprihatinkan. Jadi, siapapun yang ingin mengunjungi dusun ini, sakit perut di malam hari adalah pantangan yang akan membuat situasi menjadi rumit. Sebab, rute yang perlu ditempuh untuk mengambil air cukup menantang. Nun jauh di sana, para politisi yang duduk di gedung DPRD kini sedang sibuk memperjuangkan kenaikan tunjangan perumahan dari Rp 9 juta ke Rp 12 juta.

Bersama dengan keterbatasan sarana dasar, bersama itu pula tingkat pendidikan masyarakat pun menjadi terbatas. “Rata-rata anak-anak di sini hanya sekolah sebatas SD hingga SMP. Bahkan profesi penduduk untuk saat ini adalah mencari kayu untuk dijual ke Lombok Timur. Pembelinya rata-rata untuk oven tembakau,” ungkap Sanusi.

FOTO 4 - 3

Sebuah musala di Dusun Batu Ampar, Desa Sekotong Tengah. (suarantb.com/szr)

Sejumlah titik di daerah Sekotong menyimpan kandungan emas. Maka, tidak tertutup kemungkinan ratusan meter di bawah kaki warga Dusun Ampar ini juga dapat ditemukan potensi logam mulia itu. Jika itu terjadi, mungkin pula akan ada upaya relokasi warga. Namun, masyarakat setempat buru-buru menampik impian itu. Sebab mereka lebih memilih untuk menikmati siraman gelap malam di atas taburan bintang di samping makam para leluhur, daripada harus pindah dengan langkah berat di tanah yang basah dengan kenangan ini.

“Di tanah ini terkubur para leluhur kami, jadi kami berat untuk meninggalkan tanah ini,” jelas Sanusi.

Kadus Batu Ampar juga menambahkan bahwa harapan masyarakat lokal cuma tiga, yakni fasilitas aliran listrik, akses jalan, dan akses air bersih. “Semoga permintaan itu didengar pemerintah, kami kesulitan sejak lama. Tolong bantu kami,” harapannya. (szr)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here