600 UMKM dan Gerakan Koperasi Ditempa di Balatkop

Hj. Darwati. (Suara NTB/bul)

Mataram (Suara NTB) – Pemprov NTB memanfaatkan Balai Latihan Koperasi (Balatkop) untuk menempa sebanyak 600 orang wirausaha atau pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) dari berbagai latar belakang usaha dan gerakan koperasi menjadi agen perubahan di masyarakat. 600 orang ini ditingkatkan kapasitasnya selama 4 hari rata-rata  melalui kegiatan pelatihan, teori dan praktik.

Selanjutnya, di masyarakat diharapkan bisa membagi ilmu, mengembangkan bisnisnya dan membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekitarnya. Sepanjang tahun 2020 ini, Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Provinsi NTB, H. Wirajaya Kusuma, MH., melalui Kepala Balatkop Provinsi NTB, Hj. Darwati mengatakan karena Covid, hanya 600 orang UMKM dan gerakan koperasi yang dilatih. Tahun lalu sebanyak 1.086 orang.

“Tahun 2021, rencananya dilatih lagi sebanyak 740 orang. Karena anggaran terbatas akibat Covid,” kata Hj. Darwati kepada Suara NTB, Selasa, 17 November 2020. 600 orang ini dibagi menjadi sepuluh angkatan. Untuk meminimalisir potensi penularan virus corona. Meskipun, para peserta dari 10 perwakilan kabupaten/kota ini dilatih dengan protokol ketat Covid. Seperti yang sering ditekankan H. Wirajaya.

Darwati menambahkan, para peserta yang dilatih ini adalah mereka yang di rekomendasikan oleh kabupaten/kota. Rata-rata sudah berlatar belakang UMKM. Baik UMKM konveksi, tata rias, tata boga, dan UMKM sejenisnya. Serta gerakan koperasi yang terdiri dari para pengurus koperasi. Kompetensi yang ditingatkan misalnya, bagaimana membuat desain yang kekinian. Sesuai selera zaman. Untuk memastikan kompetensinya seperti yang diharapkan, instruktur-instruktur lulusan luar negeri yang dilibatkan. Dan instruktur yang berkompeten di bidangnya.

Selain kompetensi, manajemen pengelolaan keuangan juga diberikan pelatihan. Harapannya agar para UMKM yang sudah ditempa di Balatkop ini mampu memanajemen hasil usahanya dengan baik agar terus tumbuh dan berkembang. Demikian juga gerakan koperasi. Pelatihan yang diberikan, kata Hj. Darwati, umumnya adalah penguatan manajemen keuangan. Sehingga diharapkan, koperasi-koperasi yang ada di NTB ini dapat mengelola keuangan dengan baik agar tak gulung tikar.

“Banyak koperasi yang gulung tikar. Salah satunya karena keterbatasan pengurus dalam memanajemen keungannya,” imbuhnya. Karena itu, pelatihan yang diselenggarakan di Balatkop NTB, outputnya adalah tanggung jawab moral kepada peserta pelatihan menjadi lebih baik dan berkembang. Dengan begitu, seiring perkembangannya tingkat kebutuhan tenaga kerjanya juga akan naik. “Kalau produknya sudah bagus, tentunya akan makin banyak peminatnya. Otomatis, untuk memenuhi pesanan akan makin banyak serapan tenaga kerjanya,” demikian Hj. Darwati. (bul)