500 Warga NTB Korban TPPO, Kadis Nakertrans dan Kepala BP3TKI Dipanggil ke Jakarta

Ilustrasi Pemulangan TKI (ant/bali post)

Mataram (Suara NTB) – Pemprov NTB mendapatkan informasi bahwa jumlah warga NTB yang menjadi korban Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) sebanyak 500 orang. Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri mengungkap sindikat TPPO dengan jumlah korban para calon TKI yang akan dikirim ke Timur Tengah sebanyak 1.200 orang.

Staf Khusus Gubernur Bidang Ketenagakerjaan dan Perburuhan NTB, Imalawati Daeng Kombo menyebutkan, korban TPPO asal NTB bukan 200 orang. Tetapi informasi yang diperoleh, jumlah korban mencapai 500 orang.

Iklan

‘’Korban TPPO itu bukan 200 orang tapi kurang lebih 500 orang dari NTB. Dari 1.200 orang itu, kurang lebih 500 orang kita,’’ kata Daeng dikonfirmasi Suara NTB, Kamis, 11 April 2019.

Daeng mengatakan, Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) NTB, Dr. M. Agus Patria, SH, MH dan Kepala BP3TKI Mataram pada Jumat, 12 April 2019 dipanggil ke Jakarta oleh Bareskrim Polri. Pemanggilan Disnakertrans dan BP3TKI tersebut berkaitan dengan pemulangan korban TPPO yang mayoritas berasal dari Pulau Sumbawa.

‘’Besok pagi (hari ini, red) Pak Kadis dan Kepala BP3TKI ke Jakarta sesuai permintaan Bareskrim Polri. Dari Polda NTB juga akan ikut ke sana sebagai penjamin, pertanggungjawaban akan dipulangkannya calon TKI korban TPPO itu,’’ jelasnya.

Daeng belum mendapatkan informasi detail data masing-masing korban TPPO tersebut. Setelah Disnakertrans dan BP3TKI ke Jakarta, maka akan diketahui data yang lebih detail termasuk kondisi terkini para korban.

Daeng menambahkan, Bareskrim Polri sudah menangkap dua orang perempuan asal NTB yang diduga merekrut calon TKI yang akan diberangkatkan ke sejumlah negara di Timur Tengah tersebut. Dikatakan, para korban TPPO itu berasal dari Pulau Sumbawa.

Ratusan korban TPPO asal NTB itu, kata Daeng belum diberangkatkan ke Timur Tengah. Mereka masih ditampung dan berhasil dicegat oleh aparat kepolisian.

Para calon TKI ini merupakan korban bujukan para calo TKI yang berkeliaran di seluruh pelosok NTB. Para calo TKI ini meninabobokkan masyarakat yang ingin bekerja ke Timur Tengah.

Meskipun sampai saat ini pengiriman TKI informal ditutup. Tetapi para calo TKI terus membujuk masyarakat dengan janji-janji akan dikirim ke Timur Tengah khususnya Arab Saudi.

‘’Dan teman-teman kita yang sudah biasa ke luar negeri, tertarik dengan apa yang disampaikan PJTKI bersangkutan,’’ katanya.

Daeng mengatakan, sudah menjadi kebiasaan masyarakat NTB bekerja ke Timur Tengah walaupun diberangkatkan secara ilegal. ‘’Karena perekrut memberikan iming-iming yang sangat mengena buat mereka,’’ ungkapnya.

Masyarakat yang berhasil kena rayuan calo TKI ini kemudian banyak yang dikirim ke negara-negara konflik di Timur Tengah, seperti Suriah, Maroko, Tunisia. ‘’Tidak seperti yang dijanjikan ketika direkrut oleh oknum PJTKI,’’ terangnya.

Bareskrim  Polri mengungkap empat jaringan pelaku tindak pidana perdagangan orang yang menyalurkan korban ke Maroko, Turki, Suriah dan Arab Saudi. Sebanyak 1.200 orang menjadi korban. Di mana ratusan orang dari NTB.

Direktur Tindak Pidana Umum Bareskrim Polri, Brigjen Pol Herry Rudolf Nahak di Gedung Mabes Polri, Jakarta,  mengatakan tersangka jaringan Maroko yang ditangkap di NTB bernama Mutiara dan Farhan merekrut korban dari NTB dan Jakarta.

Rute perjalanan dalam menyalurkan korban adalah dari Sumbawa dibawa ke Jakarta, kemudian ke Batam untuk memasuki Malaysia, baru ke Maroko.

Pekerja migran Indonesia yang berangkat nonprosedural terungkap saat korban mengalami persoalan, seperti kekerasan, perkosaan, tidak dibayar gaji, akhirnya baru TKI kabur ke KBRI atau Konjen menyampaikan persoalannya.

Untuk jaringan Turki, tersangka yang ditangkap di NTB juga dua orang, yakni Erna Rachmawati serta Saleha yang juga merekrut korban dari NTB dan Jakarta. Rute penyaluran korban dari NTB ke Jakarta menuju Oman dan berakhir di Istanbul. (nas)