50 persen Pembelajaran Sistem Daring di Lobar Tak Berjalan

Raker dan bincang pendidikan membahas pembelajaran di masa pandemi yang diadakan PGRI Lobar. (Suara NTB/her)

Giri Menang (Suara NTB)-Penerapan pembelajaran melalui sistem dalam jaringan (Daring) dan luar jaringan (Luring) di tengah pendemi Covid-19 di Lombok Barat (Lobar) belum berjalan maksimal, terutama di daerah-daerah pelosok. 50 persen sekolah di Lobar yang melaksanakan pembelajaran sistem daring masih menggunakan aplikasi sederhana sebatas media sosial whatshapp. Di samping banyal kendala, murid tidak memiliki smartphone dan paket internet.

Persoalan pembelajaran di masa pandemi ini pun menjadi atensi PGRI Lobar. PGRI Lobar berupaya membantu Pemda mencarikan solusi melalui berbagai inovasi dan terobosan. Hal ini dirumuskan dan dibahas dalam rapat kerja dan bincang pendidikan PGRI Lobar yang diadakan di Hotel Aruna Senggigi Rabu, 29 Juli 2020, menghadirkan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Lobar, H. Nasrun, menghadirkan Sekretaris Jenderal PGRI Pusat, Ali Rahim dan Ketua PGRI NTB Yusuf.

Iklan

Kadis Dikbud Lobar mengatakan bicara masalah pembelajaran di masa pandemi, ada tiga metode yang dipakai yakni daring, luring dan perpaduan keduanya. “Yang banyak di Lobar yang memakai dua-duanya (ada sebagian daring dan luring), karena di setiap sekolah ada saja anak-anak kita yang ndak punya HP (smartphone),”jelas dia.

Ia menyebutkan 50 persen pembelajaram sudah menerapkan sistem daring. Namun di daerah pelosok, tidak ada yang menggunakan daring. Bahkan ada yang tidak menggunakan daring dan luring. “Ada yang tidak menggunakan daring dan luring, itu harus kita carikan solusi soal ini,”imbuh dia. Upaya yang dilakukan mengatasi masalah ini, banyak sekolah termasuk SMP sudah melakukan workshop penajaman penggunaan media berbasis IT.

Ia berharap kepada peserta yang sudah workshop ini agar melahirkan pembelajaran berbasis IT yang bisa diterapkan oleh semua sekolah. Melalui IT, guru diharapkan memberikan materi kepada anak-anak lebih banyak mendengar dan menonton. “Perlu juga dilakukan pemantapan untuk guru-guru,”imbuh dia.

Diakui, proses belajar melalui sistem daring belum maksimal, 60 persen baru bisa tuntas pembelajaran. Karena itu, kegiatan ini menjadi ajang untuk mencari dan membahas solusi serta mendapatkan inovasi untuk menyelesaikan persoalan pendidikan di masa pandemi.

Ketua PGRI Lobar, Tajudin S.Pd mengatakan bicang pendidikan yang diadakan PGRI ini dilatar belakangi pemikiran Pengurus PGRI karena melihat anak-anak tidak bisa belajar tatap muka di sekolah. Sehingga perlu ada terobosan dari guru terkait penerapan pembelajaran ini, ada beberapa gagasan yang muncul seperti disampaikan Dikbud. “PGRI sebagai penggerak dan membuka layanan pendidikan dimanapun tempatnya,”imbuh dia. Lobar sendiri masuk zona merah, sehingga sekolah tidak boleh dibuka. Kalau zona hijau, ada beberapa kriteria yang harus dipenuhi.

PGRI akan menggerakkan semua potensi dan inovasi dengan segera mempersiapkan para guru menerapkan pelayanan pendidikan. Pihaknya mendengar beberapa kendala dihadapi orang tua dan siswa yang tak punya HP, tidak bisa beli kuota. Sehingga solusi atas persoalan ini yang dicari, sehingga semua anak baik tingkat TK sampai SMP bisa terlayani dalam kondisi saat ini. Perlu ada inovasi pembelajaran namun tetap menerapkan protokol kesehatan. Sejauh ini sudah dilakukan system daring, luring dan kombinasi keduanya. Sistem luring ini sudah berjalan, dimana guru mendatangi rumah murid. Disini perlu dijaga kesehatan guru dan murid agar tidak terpapar covid-19.

Karena itu, para guru yang tergabung dalam PGRI bisa berinovasi membantu pemda. PGRI juga merancang agar bisa meningkatkan kualitas pembelajaran secara daring maupun luring. Pihaknya juga mendorong agar bagaimana dirancang kurikulum di masa pandemi, mulai dari silabus dan lain-lain. Terkait apakah bisa masuk sekolah? menurutnya belum, karena mengacu SKB empat menteri dan SE Gubernur, daerah yang ada di zona merah, oranye, kuning tidak dibolehkan masuk sekolah.

Ketua PGRI NTB Yusuf mengatakan di masa covid-19 dimana-mana pembelajaran jarak jauh 56 persen tidak bisa terjangkau, hanya 44 persen bisa terjangkau. Dari hasil survei di daerah lain, 80 persen guru melakukan pembelajaran sistem daring namun 90 persennya melalui whatsapp. “Soal difoto, kirim ke siswa, nanti siswa foto jawabannya, kirim lagi ke guru. Bagaimana ndak bosan orang tua dan murid,”jelas dia. (her)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here