50 Persen PAD Lobar Dipastikan Hilang

H. Akhmad Saikhu (Suara NTB/her)

Giri Menang (Suara NTB) – Capaian Pendapatan Asli Daerah (PAD) sampai saat ini baru Rp 30 miliar yang masuk ke kas daerah. Kalau ditotal dengan pendapatan dari BLUD mencapai Rp 70 miliar. Jumlah ini pun sangat merosot dibandingkan target mencapai Rp274 miliar. Bahkan akibat kondisi Covid-19, dipastikan target PAD dipangkas 50 persen setelah dilakukan refocusing dan realokasi anggaran. Akibat kondisi ini Lobar pun berpotensi kolaps.

“Bulan April kemarin PAD yang masuk baru sekitar Rp 30 miliar di luar BLUD. Kalau ditambah BLUD Rp70 miliar,” aku Kepala Bapenda Lobar H. Akhmad Saikhu, Selasa, 12 Mei 2020.

 Mantan Kepala Dishubkominfo ini mengatakan, capaian PAD sangat terjun bebas, sehingga dari target awal tahun ini mencapai Rp 274 miliar malah diturunkan menjadi Rp181 miliar. “Target PAD dipangkas Rp 181 miliar lebih, hampir 50 persen lebih,”ujar dia.

Nantinya target ini akan dilaksanakan tahun ini dan dilihat kembali pada APBD perubahan. Saat ini tengah dilakukan penyesuaian dampak dari refocusing dan realokasi anggaran untuk penanganan Covid-19.

Berdasarkan estimasi perhitungannya, diperkirakan PAD yang hilang mencapai Rp 124 miliar lebih dampak Corona. Menyusul hampir semua sektor sumber pendapatan daerah seperti pajak hotel, restoran, hiburan dan pajak tidak bisa dipungut. Selain itu pajak bumi dan bangunan (PBB) juga terancam tak maksimal menyusul daerah pariwisata paling berkontribusi besar terhadap PBB justru banyak yang tidak beroperasi. Pihak dinas juga tidak bisa terlalu memaksa memungut masyarakat di tengah kondisi dampak Corona saat ini. “Kita coba berhitung dan estimasikan sempai akhir tahun ini (Desember) PAD dari target Rp 274 miliar (di luar BLUD Rp 101 miliar lebih) mampu kita capai hanya 50 Persen, artinya defisitnya Rp 123 miliar lebih,” terangnya.

Perhitungan ini, jelas dia, berdasarkan kondisi saat ini. Pihaknya tidak tahu sampai kapan kondisi dampak Corona ini, kalaupun sampai 3-6 bulan lebih, tidak secepat itu pihak hotel akan mampu me-recovery, sehingga pihaknya tidak berharap banyak dari sektor pajak di sektor pariwisata.

Sektor-sektor lain yang menjadi harapannya untuk pemasukan PAD, seperti pajak penerang jalan (PPJ) dari PLN pun diyakini tidak maksimal menyusul adanya kebijakan pemerintah pusat menggratiskan listrik 450 Watt dan diskon 50 persen bagi pelanggan 900 Watt dipastikan berdampak terhadap PPJ.

Pihaknya pun sudah bersurat PLN untuk merumuskan masalah ini. Dari PPJ saja ditarget Rp 28 miliar tahun ini, tiga bulan terakhir terdapat pemasukan Rp2,4 miliar per bulannya. Namun keluarnya kebijakan pusat, maka PPJ dipastikan tak mencapai target.

Selain itu, sektor reklame, air bawah tanah (ABT), retribusi pasar, parkir dan ada Juga BPHTB. Dari berbagai sektor ini, lanjut dia, kalau maksimal, maka bisa dicapai 50 persen.

Sebenarnya lanjut dia, di awal tahun pihaknya optimis capaian PAD bisa maksimal, karena berdasarkan hitungannya tiga bulan terakhir (Januari-Maret) realisasi PAD mencapai Rp41 milliar atau 17 persen dari target. Capaian ini termasuk tinggi dibandingkan sebelumnya. Namun memasuki bulan April, justru anjlok, karena banyak hotel, restoran dan tempat hiburan yang tutup. Begitu juga sektor PBB jatuh temponya September dan SPPT dan SSPD nya pun sudah dicetak dan didistribusikan ke beberapa kecamatan.  (her)