5.745 Jiwa Terkena Dampak Krisis Air Bersih di Jerowaru

Mataram (suarantb.com) – Lima kecamatan di Lombok Timur terkena dampak kekeringan yang cukup parah dan krisis air bersih. Lima kecamatan tersebut antara lain Jerowaru, Sakra Timur, Sakra Barat, Sakra  dan Keruak. Hal tersebut diungkapkan Kepala Desa Pemongkong Kecamatan Jerowaru Lombok Timur pada acara rapat koordinasi bersama Lembaga Penanggulangan Bencana Muhammadiyah (LPBM) di Kantor Desa Pemokong,  Kamis, 15 September 2016.

Pada acara penggalangan bantuan air di Desa Pemokong oleh LPBM diketahui bahwa desa di Kecamatan Jerowaru yang mengalami krisis air cukup parah tiga desa.  Diantaranya, Desa  Jelok Buso, Pemongkong Barat, dan Pemongkong Timur. Krisis air bersih yang dialami pada tiga desa tersebut ditandai hilangnya mata air, dan kesulitan air bersih untuk mencuci, mandi, minum, dan kebutuhan-kebutuhan lainnya.

Iklan

Sehingga dibutuhkan bantuan pemerintah kabupaten maupun provinsi untuk segera menurunkan bantuan air bersih pada kecamatan-kecamatan yang terkena dampak kekeringan. Hanan mengatakan,  desa yang terletak di Lombok Timur bagian selatan telah diajak berdiskusi masalah air bersih oleh Pemkab Lombok Timur.

Pada diskusi tersebut telah diputuskan untuk mengucurkan dana sebesar Rp 2 miliar untuk mengatasi kekeringan. Namun rencana tersebut kata Hanan hanya omongan saja, belum ada tindaklanjut secara pasti.

“Hari Senin lalu, kami sudah melakukan rapat bersama Bupati di Sakra. Persoalan air minum akan diselesaikan untuk wilayah selatan. Karena tidak punya mata air di lima kecamatan, namun kita hanya bisa bicara saja,” ujarnya.

Untuk memenuhi kebutuhan  air sehari-hari, warga Pemongkong mengandalkan persediaan dari waduk dan bendungan. Selain itu upaya lain yang dilakukan warga Pemongkong dengan cara membeli air bersih.

Pemerintah desa, katanya juga telah membuatkan sumur bor bagi warga. Namun upaya tersebut  sia-sia karena sumur bor memakan biaya cukup banyak, dan pemanfaatannya hanya bersifat sebentar saja. Yakni  hanya bertahan dua sampai tiga bulan. Setelah itu airnya berubah menjadi pahit dan payau.

“Kita sediakan kantong-kantong air untuk warga seperti waduk dan bendungan. Kalau sumur bor sudah tidak bisa kita andalkan karena memerlukan biaya yang cukup besar, tidak sesuai dengan pemanfaatannya,” paparnya.

Ia menyebutkan, untuk membangun sumur bor membutuhkan anggaran Rp 50-100 juta. Namun, sumur bor tersebut hanya bisa dimanfaatkan selama dua sampai tiga bulan.

Hanan berharap, kedepan adanya sistem perpipaan sepanjang 3 km  yang dialirkan di sepanjang Desa Pemokong. Dimana  air diambil dari desa sebelah yaitu Desa Jerowaru. Kini, jumlah kepala keluarga pada  tiga desa di kecamatan Jerowaru tersebut sebanyak 1.758 KK dan 5.745 jiwa. Mereka masih bergantung pada pembelian air bersih melaui mobil tangki dan distribusi air bersih  yang jarang dari pemerintah daerah. (ism)