440 Jemaah Umrah Asal NTB Batal Diberangkatkan

Ilustrasi virus corona. (Sumber Foto: Pixabay)

Mataram (Suara NTB) – Sebanyak 440 jemaah umrah asal NTB batal diberangkatkan ke Arab Saudi pada 27 Februari lalu. Hal tersebut menyusul keluarnya kebijakan Pemerintah Arab Saudi pada hari yang sama menghentikan sementara umrah karena virus Corona.

Kepala Seksi Pembinaan Haji dan Umrah Kemenag NTB, H. Lalu Muhammad Zainuddin, SH, MH yang dikonfirmasi Suara NTB, Rabu, 4 Maret 2020 merincikan 440 jemaah umrah asal NTB yang batal diberangkatkan ke Arab Saudi. Sebanyak 315 jemaah umrah dari Zeinta Tour & Travel dan sisanya sebanyak 125 jemaah umrah dari travel-travel lainnya. “Artinya 400 orang lebih yang batal berangkat per tanggal 27 Februari itu,” sebutnya.

Iklan

Bagi jemaah umrah yang batal diberangkatkan, Zainuddin mengatakan tiket keberangkatan dan kepulangan tidak akan hangus. Begitu juga dengan biaya yang telah  dikeluarkan oleh jemaah untuk hotel atau penginapan.

“Pada prinsipnya jemaah tak ada yang dirugikan. Akomodasi, hotel, transportasinya dan layanan lainnya tetap dapat dipergunakan sampai pencabutan status penghentian sementara itu,” terangnya.

Akibat penundaan keberangkatan ratusan jemaah umrah asal NTB, Pelaksana Penyelenggara Ibadah Umrah (PPIU) akan menjadwal ulang dan menegosiasikan ulang dengan penyedia layanan di Arab Saudi.  Akibat penundaan tersebut, maskapai penerbangan tak akan mengenakan biaya tambahan.

“Semua pihak terkait tak akan membebani biaya tambahan apapun kepada jemaah atas penundaan ibadah umrah. Pihak airlines tidak menghanguskan tiket keberangkatan dan kepulangan jemaah yang terdampak dari kebijakan pemerintah Arab Saudi,” jelasnya.

Menurut Zainuddin, hal tersebut merupakan keputusan rapat antara Menteri Agama dengan PPIU, maskapai penerbangan dan Angkasa Pura. Terkait dengan pembuatan visa umrah, ia mengatakan saat ini sudah disetop dulu sambil menunggu pencabutan kebijakan penghentian sementara umrah oleh Pemerintah Arab Saudi.

Zainuddin menyebutkan masyarakat NTB yang mengurus visa umrah mencapai ribuan orang. Namun untuk sementara pengajuan visa umrah dipending dulu sesuai dengan  surat dari KJRI.

Mengenai pengembalian dana bagi yang sudah mendapatkan visa, kata Zainuddin tergantung jemaah. Namun, ia mengatakan apabila visa sudah keluar kemudian tak bisa dipergunakan akibat kebijakan penghentian sementara ibadah umrah, maka pemerintah dapat  meminta kepada KJRI untuk menerbitkan visa baru. “Pada prinsipnya jemaah tak ada yang dirugikan,” tandasnya. (nas)