400 Hektare Lahan Pertanian di Mataram Berpotensi Kekeringan

Ilustrasi kekeringan. (Suara NTB/ist)

Mataram (Suara NTB) –  400 hektare lahan pertanian di Kota Mataram terancam mengalami kekeringan. Terlebih beberapa lahan pertanian tersebut mengandalkan tampungan air hujan sebagai sumber air utama.

Kepala Dinas Pertanian Kota Mataram, H. Mutawalli, menerangkan luas areal tersebut berasal dari 1.483 hektare lahan pertanian yang ada. “Itu potensi kalau tiba-tiba ada kekeringan lama, maka sekitar 30 persen itu yang akan terkena juga,” ujarnya, Minggu, 30 Agustus 2020.

Iklan

Diterangkan, kekeringan mungkin terjadi karena topografi tanah di beberapa area persawahan tersebut cukup tinggi. Sehingga air cukup sulit disalurkan jika intensitasnya berkurang.

“Itu bisa dilihat airnya bawah dan mengandalkan air hujan, irigasinya sudah dirusak,” jelasnya. Untuk itu, pihaknya telah menyalurkan beberapa mesin pompa air untuk membantu menaikkan air bawah tanah melalui sumur-sumur yang dibuat.

Area persawahan yang memiliki potensi kekeringan antara lain di sekitaran Kecamatan Selaparang, Kecamatan Cakranegara, dan Kecamatan Sandubaya. Komoditas yang paling rentan terhadap kekeringan sendiri antara lain padi.

“Kalau dia bisa diantisipasi seperti ini, tidak mengandalkan padi terus,” ujar Mutawalli. Diterangkan, setiap taun pihaknya juga memberikan bantuan sumur bor kepada kelompok-kelompok tani di kawasan yang berpotensi mengalami kekeringan.

Kendati demikian, sampai saat ini pihaknya belum menerima laporan terkait adanya gagal panen yang dialami petani. Untuk mengantisipasi dampak kekeringan yang mungkin terjadi, pihaknya berharap petani dapat berinovasi dengan beralih pada produk-produk pertanian seperti buah-buahan yang cenderung tidak membutuhkan banyak air.

Menurutnya, jika petani di Kota Mataram beralih menanam buah-buahan keuntungan yang didapat juga bisa lebih tinggi dibanding produk pangan. Hal tersebut mengikuti musim panen yang lebih panjang untuk buah-buahan.

“Kalau petani buah-buahan tanamnya sekali panennya berkali-kali. Memang beratnya di awal, yakni saat tanam dan pemeliharaan, tapi panennya bisa sepanjang tahun dan sampai puluhan tahun,” tandas Mutawalli. (bay)