30 Persen Gedung SD di Lotim Rusak

Selong (Suara NTB) – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Kabupaten Lombok Timur (Lotim) harus bekerja ekstra untuk melobi anggaran pusat. Pasalnya, hingga tahun 2018 tercatat masih 30 persen gedung fisik Sekolah Dasar (SD) di Lotim dalam kondisi rusak dari 727 SD di Kabupaten Lotim.

Demikian disampaikan Kepala Dinas Dikbud Lotim, Lalu Suandi,S.Sos, pada Suara NTB, Rabu, 11 April 2018. Dijelaskannya, pembangunan ruang kelas belajar (RKB) khusus untuk SD melalui tiga sumber yakni DAK, bantuan pusat  dan dari APBD. Salah satu sekolah yang diajukan untuk mendapatkan bantuan yakni SDN 1 Lenek yang saat ini sudah dilakukan survei, sehingga diharapkan dapat menerima bantuan di tahun 2018.

Iklan

“Untuk sekolah di Kabupaten Lotim yang mengalami rusak sedang masih sekitar 30 persen dari 727 sekolah SD di Kabupaten Lotim,” terangnya.

Lalu Suandi menjelaskan, kerusakan pada gedung fisik sekolah sulit untuk ditebak. Karena fakta di lapangan, meskipun gedung sekolah itu baru tuntas dikerjakan. Namun tidak menutup kemungkinan mengalami kerusakan, terutama yang disebabkan oleh faktor alam. Sementara, dari pemerintah daerah harus bersikap netral dengan cara mengusulkan sekolah-sekolah yang memang layak untuk mendapatkan bantuan dari beberapa sumber anggaran tersebut.

Disebutkan Lalu Suandi, untuk DAK yang diperbaiki sekitar 21 ruang untuk RKB dan 40 untuk rehab sedang. Adapun bantuan saat ini tidak hanya untuk ruang belajar, melainkan untuk penunjang lainnya. Adapun yang diajukan Dinas Dikbud Lotim untuk penerima dana bantuan pusat tahun 2018 sekitar 80 unit, namun yang memenuhi kriteria kemudian dilakukan survei sekitar 50 unit baik untuk RKB, renovasi, sanitasi bahkan hingga kantin siswa.

Sementara, Kepala SDN 1 Lenek Kecamatan Aikmel, Iskandar,S.Pd mengaku jika SDN 1 Lenek mendapatkan bantuan rehab pertama dan terakhir pada tahun 1985, setelah itu tidak lagi mendapatkan rehab RKB hingga saat ini. Adapun jumlah RKB yang dikhawatirkan membahayakan siswa sebanyak empat RKB yakni untuk kelas satu, dua, tiga dan empat.

Di samping itu, untuk kelas satu dan dua yang mengalami lonjakan siswa yang cukup drastis dipergunakan rumah dinas kepala sekolah dan guru. Penggunaan rumdis itupun sudah cukup lama dan kondisinya juga cukup membahayakan siswa. (yon)