30 Orang Mahasiswa NTB Dikarantina

Ilustrasi Karantina WNI dari China (ant/bali_post)

Mataram (Suara NTB) – Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) NTB kembali melakukan observasi dan asesmen kesehatan pada 18 orang Mahasiswa yang diketahui baru datang dari China. Sampai saat ini, total Mahasiswa yang menjalani pemeriksaan kesehatan dan karantina untuk mengantisipasi penyebaran corona mencapai 30 orang.

Kepala Bidang Pelayanan RSUD NTB, dr. Nyoman Wijaya Kusuma, rombongan 18 orang Mahasiswa tersebut sampai di RSUD NTB pada Rabu, 5 Februari 2020 sekitar pukul 14.30 Wita. “Data terakhirnya mereka sehat. Artinya tidak panas. Tidak satupun (dari) mereka yang mengeluh sakit,” ujarnya saat dikonfirmasi, Kamis, 6 Februari 2020.

Iklan

Sebelumnya RSUD NTB juga melakukan observasi dan asesmen terhadap delapan orang Mahasiswa yang baru datang dari China pada Sabtu, 1 Februari 2020 lalu, dan empat orang lainnya pada Kamis, 30 Januari 2020 lalu. Seluruh Mahasiswa tersebut menunjukan suhu tubuh normal, yaitu antara 36-36,5ﹾC.

Diterangkan Kusuma, empat orang mahasiswa yang datang pada 30 Januari lalu saat ini telah dipulangkan dan menjalani karantina rumah. Sementara delapan orang yang datang padi 1 Februari lalu dan 18 orang lainya yang datang pada 5 Februari memutuskan untuk menjalani karantina di RSUD NTB. Dengan begitu, total mahasiswa yang masih menjalani karantina di RSUD NTB berjumlah 26 orang.

Sementara itu, untuk empat Mahasiswa yang memutuskan menjalani karantina rumah, proses pengawasan diserahkan kepada Puskesmas setempat berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan NTB. Seluruh keputusan tersebut telah disetujui oleh masing-masing orang tua Mahasiswa.

Menurut Kusuma, keputusan untuk karantina rumah memiliki beberapa aturan yang tidak disanggupi oleh orang tua Mahasiswa. Sehingga pihak keluarga memutuskan menyerahkan proses karantina kepada RSUD NTB dibawah pengawasan Dinas Kesehatan NTB.

Karantina sendiri berlangsungs elama 14 hari masa inkubasi virus corona. Artinya, jika selama 14 hari tidak menunjukkan gejala pneumonia, maka seluruh Mahasiswa yang menjalani karantina dinyatakan terbebas dari corona dan mendapatkan Health Alert Card (HAC).

“Kami lakukan pemantauan suhu tubuh tiga kali sehari: pagi, siang, malam. Kalau dia panas (demam, Red), kita harus segera evakuasi ke ruang isolasi,” ujar Kusuma. Pemeriksaan dilakukan oleh tim dokter dan perawat yang berjaga di RSUD NTB.

Sebagai langkah pencegahan, seluruh Mahasiswa hanya boleh bertemu dengan tim doker dan perawat selama 14 hari masa inkubasi. Selain itu, Mahasiswa tersebut dilarang meninggalkan kamar dan diharuskan memakai masker ketika menjalani pemeriksaan.

Diterangkan Kusuma, seluruh Mahasiwa yang menjalani karantina telah dibekali juga pengetahuan umum tentang gejala pneumonia, termasuk yang disebabkan oleh virus corona. Dengan begitu, jika mengalami sakit sesuai gejala yang telah dijelaskan, para Mahasiswa tersebut diminta untuk segera menghubungi tim medis yang berjaga untuk dilakukan penanganan di IGD, untuk selanjutnya dibawa ke ruang isolasi.

Terpisah Kepala Diskominfotik NTB, I Gede Putu Aryadi, S. Sos, MH, selaku salah satu penanggung jawab Posko Kewaspadaan Corona menerangkan bahwa seluruh proses karantina di RSUD NTB yang saat ini dijalani oleh Mahasiswa NTB telah mendapat persetujuan dari pihak keluarga. “Kita berikan edukasi dan kesempatan memilih apakah bersedia tidak boleh berinteraksi terlalu dekat, menyediakan satu kamar khusus, dan lain-lain, atau memilih di rumah sakit. Ternyata (mereka) memilih (karantina) di rumah sakit,” ujarnya dikonfirmasi, Kamis, 6 Februari 2020 di Mataram.

Proses karantina sendiri disebut sebagai antisipasi yang dilakukan pemerintah untuk menekan potensi penyebaran virus corona di NTB. “Meskipun dia sehat, tetap akan dilakukan observasi di RSUD NTB. Terutama untuk yang baru datang dari China,” ujar Gede.

Dalam prosesnya, seluruh biaya yang dibutuhkan untuk menjalani karantina di RSUD NTB ditanggung sepenuhnya oleh Pemprov NTB. Yaitu melalui dana penanggulangan masalah kesehatan terkait bencana alam. “Kita pakai dana untuk menanggulangi kejadian luar biasa dan wabah, itu yang dipakai,” pungkasnya. (bay)