3.000 Mahasiswa Teknik Kawal Pembangunan Rumah Tahan Gempa

Mataram (Suara NTB) – Mulai pekan depan, penanganan pascabencana akan memasuki tahap rehabilitasi dan rekonstruksi pembangunan puluhan ribu rumah warga yang rusak berat. Pemerintah mengerahkan 3.000 mahasiswa teknik untuk mengawal pembangunan rumah penduduk yang tahan gempa.

Terkait bagaimana mendampingi pembangunan rumah penduduk yang  tahan gempa. ‘’Maka diskenariokan pada Senin, 27 Agustus 2018 akan ada apel siaga dari 3.000 relawan yang akan mendampingi proses pembangunan rumah penduduk,’’ ujar Koordinator Bidang Data, Informasi dan Humas Satgas Penanganan Darurat Bencana (PDB) Gempa Lombok, Drs. Tri Budiprayitno, M. Si ketika dikonfirmasi Suara NTB, Jumat, 24 Agustus 2018 siang.

Iklan

Tri menyebutkan, 3.000 relawan tersebut merupakan mahasiswa jurusan teknik sipil dan bangunan yang berasal dari perguruan tinggi yang ada di NTB maupun luar daerah seperti Universitas Gajah Mada (UGM). Mereka akan mengawal pembangunan rumah-rumah penduduk yang tahan gempa.

Pemerintah pusat menargetkan,  pembangunan puluhan ribu rumah warga yang rusak akibat gempa beberapa waktu lalu harus tuntas enam bulan ke depan. Pembangunan 10 ribu unit tahap pertama akan dilakukan mulai 1 September mendatang. Artinya, pembangunan rumah penduduk terdampak gempa akan tuntas Februari 2019.

Kepala Dinas Komunikasi, Informatika dan Statistik (Kominfotik) NTB ini mengatakan setelah tanggap darurat selesai pada 25 Agustus 2018, maka akan memasuki tahap rehabilitasi dan rekonstruksi. Prosesnya menurut beberapa pandangan dipercepat.

‘’Enam bulan harus segera terbangun. Itu target optimistik kalau melihat data 73 ribu rusak itu. Sehingga prosesnya berjalan simultan,’’ terangnya.

Tri menjelaskan, dana bantuan perbaikan rumah langsung masuk ke rekening masyarakat penerima. Dalam membelanjakan dana tersebut, masyarakat didampingi 3.000 mahasiswa teknik tersebut. Pendampingan ini untuk memastikan rumah yang dibangun masyarakat tahan gempa.

Ditambahkan, pembangunan rumah warga terdampak gempa ini menjadi perhatian Presiden dan Wakil Presiden. Dalam kunjungan Presiden Jokowi beberapa waktu lalu meminta supaya pembangunan 10 ribu unit rumah warga yang rusak berat segera dilakukan. Kemudian dalam kunjungan Wapres H. M. Jusuf Kalla pekan lalu kembali mendetailkan lagi. Bahwa pembangunan sektor perumahan harus tuntas dalam waktu enam bulan.

‘’Oleh pihak Satgas dan lembaga yang ada sudah memverifikasi siap dibangun dimulai dengan pemberian dana. Untuk rusak berat Rp50 juta, rusak sedang  Rp25 juta dan rusak ringan Rp10 juta,’’ ucapnya.

Rencananya, kata mantan Kabag Humas dan Protokol Setda NTB ini, Presiden Jokowi akan kembali mengunjungi korban gempa dalam waktu dekat. Kunjungan Presiden ini untuk memastikan apakah direktifnya sudah dilaksanakan di lapangan.

Data Posko Penanganan Darurat Bencana (PDB) Lombok, sampai 22 Agustus 2018, gempa bumi yang meluluhlantakkan Pulau Lombok dan sebagian Sumbawa menyebabkan 555 orang meninggal dunia. Kemudian 402.529 jiwa warga mengungsi. Jumlah rumah yang rusak berat 76.765 unit, 1.229 fasilitas umum dan tempat ibadah rusak.

Daerah terparah kena dampak adalah Lombok Utara, sebanyak 466 jiwa meninggal dunia, 829 jiwa luka-luka, 178.122 jiwa mengungsi dan 23.098 rumah rusak. Kemudian Lombok Barat, 40 jiwa meninggal dunia, 399 jiwa luka-luka, 116.453 jiwa mengungsi dan 37.285 rumah rusak.

Lombok Timur, 31 jiwa meninggal dunia, 122 jiwa luka-luka, 104.060 jiwa mengungsi, 7.280 rumah rusak. Kota Mataram, 9 meninggal dunia, 63 luka-luka, 18.894 jiwa mengungsi dan 2.060 rumah rusak.

Lombok Tengah, 2 jiwa meninggal dunia, 3 jiwa luka-luka, 13.887 jiwa mengungsi dan 4.629 rumah rusak. Sumbawa Barat, 2 jiwa meninggal dunia, 60 luka-luka, 6.131 rumah rusak sedangkan pengungsi masih dalam pendataan. Terakhir Kabupaten Sumbawa, 5 jiwa meninggal dunia, 2 luka-luka, 105 rumah rusak dan pengungsi masih didata. (nas)

Advertisement Jasa Pembuatan Website Profesional