29.000 Hektar Tambak Udang di NTB Terbengkalai

Mataram (Suara NTB) – Ada 30.000 hektar potensi pengembangan tambak udang rakyat di NTB. Seluas 9.000 hektar di antaranya telah digali, 700 hektar sampai 1.000 hektar yang baru dimanfaatkan. Sekitar 29.000 hektar masih belum dimanfaatkan alias terbengkalai.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi NTB, Ir. L. Hamdi, M. Si, Rabu, 15 Februari 2017 mengatakan, pengembangan budidaya udang rakyat (udang vaname konsumsi) ini dapat dijadikan salah satu alternatif bagi nelayan eks penangkap benih lobster, maupun masyarakat umumnya untuk berkembang.

Iklan

Untuk mendukung pemanfaatan potensi tersebut, L. Hamdi mengatakan pemerintah memberikan fasilitas alat berat eksavator kepada kelompok-kelompok masyarakat untuk melakukan penggalian kolam budidaya.

Eksavator ini bahkan telah diberikan sejak 2012 lalu. Tercatat diberikan ke kelompok masyarakt di Sumbawa sebanyak dua unit, dan Dompu dua unit.

“Dengan eksavator ini, masyarakat yang memiliki lahan bisa memanfaatkannya. Cukup belikan BBM sama biaya untuk operator,” jelas kepala dinas.

Potensi pengembangan udang vaname konsumsi ini tersebar di Lombok Timur, Lombok Tengah, Lombok Barat, Sumbawa dan Bima. Di Lombok Tengah ada 200 hektar yang sudah digali, lokasinya di Kodang. Sementara Lotim ada 30 hektar di Jerowaru. Sumbawa sekitar 200 hektar, dan Dompu sekitar 350 hektar.

Dari sisi bisnis, dalam setengah hektar, pembudidaya hanya mengeluarkan biaya sebanyak Rp 6 juta, dengan penghasilan bisa mencapai Rp 20 juta. “Masyarakat bahkan bisa nebar hingga lima kali setahun karena tergiur untung. Tetapi kita tidak rekomendasikan, makismal tiga kali tebar setahun dan kolam dapat dijemur,” kata kepala dinas.

Selain mendorong masyarakat untuk mengoptimalkan lahan, L. Hamdi mengatakan kelompok-kelompok pembudidaya ini digerakkan untuk membentuk wadah yang legal agar memiliki kekuatan hukum yang sah. Setidaknya dibentuk koperasi.

Badan hukum ini menurutnya bisa menjadi jaminan bagi kelompok masyarakat mendapat kredit/pembiayaan dari perbankan untuk melakukan produksi. “Udang vaname tidak saja potensi pasarnya besar di dalam negeri, bisa juga kedepan diarahkan untuk ekspor. Yang terpenting ditingkatkan kualitas produksi dan kontinuitasnya,” demikian L. Hamdi. (bul)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here