28 Siswa Tertangkap, Diduga Konsumsi Tramadol

Mataram (Suara NTB) – Peredaran obat keras seperti trihex, tramadol dan obat penenang lainnya di Kota Mataram cukup meresahkan. Sebanyak 28 siswa tertangkap tangan diduga mengkonsumsi obat- obatan saat jam belajar.

Pengedarnya adalah rekan sekolah mereka sendiri. Modus yang digunakan terduga pelaku dengan mencelupkan obat penenang tersebut ke dalam kopi. Jika temannya ketergantungan, pelaku secara terang – terangan ditawarkan barang tersebut.

Iklan

28 siswa sekolah menengah pertama (SMP) di Kecamatan Sandubaya ini terdiri dari 23 laki – laki dan lima perempuan. Mereka duduk di kelas VII, VIII dan IX. Lima pelaku yang merupakan siswa kelas VIII dan IX digelandang ke Polsek Cakranegara untuk dimintai keterangan lebih lanjut.

Lurah Bertais, Lalu Mukhsan dikonfirmasi, Selasa, 25 Oktober 2016 menjelaskan, tertangkapnya 28 siswa ini berkat kecurigaan petugas keamanan sekolah yang mencurigai gerak – gerik siswa tersebut. Setelah satu pekan diintai, pihak sekolah langsung mengamankan pelaku di kantin sekolah dan kedapatan mengkonsumsi obat jenis tramadol dan trihex. “Obatnya di masukan ke dalam kopi dan diminum sama – sama.” kata Mukhsan.

Penggerebekan ini atas permintaan sekolah yang sudah kewalahan. Bahkan, saat proses penangkapan siswa berusaha melawan satpam. Dari 28 siswa tersebut, lima diantaranya dicurigai sebagai pengedar dan langsung diamankan oleh aparat kepolisian untuk diminta keterangan dan proses rehabilitasi. Sedangkan, 23 siswa lainnya hanya mendapatkan pembinaan.

Kepala Sekolah SMP 22 Mataram, Didik Syamsul Hadi menuturkan, awalnya sekolah menaruh kecurigaan terhadap beberapa siswa. Sebab, saat proses belajar terlihat kondisi fisik mereka lemah, tidak fokus dan selalu melawan guru. Perubahan tingkah laku siswa ini ditelusuri karena dicurigai mengkonsumsi obat keras. “Guru curiga kok mereka mau tidur dan tidak fokus. Begitu ditanya kok mereka malah melawan,” tuturnya.

Akhirnya, penggerebekan dilakukan saat mereka sedang minum obat keras tersebut secara bersamaan. Dari penggeledahan tidak ditemukan barang bukti. Beberapa siswa mengakui mengkonsumsi obat keras dan membeli di rekan sekolahnya. Didik menambahkan, tindak lanjut penangkapan tersebut, lima siswa diduga jadi pengedar diserahkan ke aparat kepolisian untuk menjalani pemeriksaan. Sementara, 23 lainnya dilakukan pembinaan.

Salah seorang siswa inisial RN mengaku baru pertama kali meminum obat keras tersebut. Itupun ditawari oleh temannya yang diketahui sebagai pengedar. Satu butir obat keras jenis tramadol dibeli seharga Rp 3 ribu perbutir. “Saya mau belikan teman di rumah. Saya baru sekali minum dan dicampur ke dalam kopi,” tuturnya. (cem)