22 Rumah Warga Rembiga Terendam Banjir

Lukman, warga Jalan Merpati VIII, lingkungan Rembiga Utara, Kelurahan Rembiga menjemur kasur miliknya, Senin, 2 Maret 2020 akibat terendam banjir, Minggu, 1 Maret 2020. (Suara NTB/cem)

Mataram (Suara NTB) – Masyarakat di Lingkungan Rembiga Utara, Kelurahan Rembiga, Kecamatan Selaparang, Senin, 2 Maret 2020 disibukkan dengan membersihkan rumah mereka dari sisa lumpur pascabanjir. Sekira 22 rumah terendam akibat luapan Sungai Midang tak memiliki tanggul. Tak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut.

Jauhari dan istrinya, warga RT 6 Jalan Merpati VIII Lingkungan Rembiga Utara sekitar pukul 11.20 Wita membersihkan halaman rumahnya dari sisa lumpur. Air bercampur deterjen digunakan menyiram halaman miliknya. Dia berbagi tugas dengan istrinya. Awenk, sapaan akrabnya bertugas menyiram dan istrinya menyikat sisa lumpur menempel.

Iklan

Dia mengaku, luapan air sungai Midang sekitar pukul 16.00 Wita menggenangi rumahnya. Ketinggian air mencapai lutut orang dewasa. Tidak ada kerusakan barang berharga miliknya. “Alhamdulillah, airnya tidak sampai masuk ke dalam rumah. Cuma sampai teras saja. Rumah warga yang lain sampai masuk ke dalam sih,” tuturnya ditemui di sela-sela membersihkan sisa lumpur pascabanjir, Senin, 2 Maret 2020.

Karena konstruksi rumahnya lebih tinggi, Awenk beserta keluarganya tidak mengungsi. Banjir ini merupakan kejadian paling parah sejak beberapa tahun lalu. Hal ini disebabkan, tidak adanya tanggul sungai yang menahan air. “Setiap tahun banjir. Tapi tidak separah sekarang,” ucapnya.

Warga lingkungan Rembiga Utara lainnya, Lukman juga terlihat membersihkan kasur miliknya akibat terendam banjir. Air masuk sampai ke dalam rumah. Dia bersyukur tidak ada barang berharga yang ikut terendam. Pasalnya, ia segera memindahkan barang-barang elektronik dan kendaraan ke tempat lebih tinggi. Karena, ketinggian banjir mencapai pinggang.

“Mobil sampai saya pindah ke atas. Air tinggi, sampai pinggang,”  tutur Lukman sambil menunjuk pinggangnya. Karena khawatir curah hujan tinggi serta air tak kunjung surut, Lukman harus mengevakuasi enam orang anggota keluarganya ke rumah tetangga. Ada rasa trauma yang dialami putri sulungnya yang baru berusia tiga tahun. Banjir kali ini lebih parah dibandingkan tahun sebelumnya. “Kita sih berharap dibuatkan tanggul. Setiap tahun terus banjir,” harapnya.

Banjir baru surut sekitar pukul 03.00 dini hari. Dia langsung membersihkan rumahnya dari sisa lumpur.

Dikonfirmasi terpisah, Camat Selaparang, Lalu Mukhsan menyampaikan, sebanyak 22 rumah warga di Lingkungan Rembiga Utara terendam banjir. Ketinggian air diperkirakan mencapai lutut orang dewasa. Hal ini disebabkan dari luapan Sungai Midang. Sepanjang aliran sungai belum dibuatkan tanggul penahan.

“Kejadiannya di RT 6 dan 7 rumah warga terendam tadi malam,” jelas Mukshan. Karena airnya segera surut, tidak ada masyarakat yang dievakuasi.

Mukshan menambahkan, kerusakan atau kerugian materi belum ada laporan diterima dari masyarakat. Harapannya adalah, Balai Wilayah Sungai (BWS) membuat beronjong atau talud di sepanjang aliran Sungai Midang. Supaya masyarakat merasa aman dan nyaman.

“Pernah ada pembangunan tanggul melalui pokir anggota Dewan. Tetapi lokasi pemasangannya salah,” ucapnya. (cem)