Kolaborasi Pemerintah Desa Kemuning, Forum Disabilitas dan AMMAN Sediakan Layanan Kesehatan bagi Penyandang Disabilitas dan Lansia

0

Taliwang (suarantb.com)-Lebih dari 30 warga masyarakat memadati kantor Desa Kemuning, Kecamatan Sekongkang, Kabupaten Sumbawa Barat untuk mendapatkan layanan Kesehatan, Fisioterapi dan dukungan Psikologi pada hari Sabtu (08/06/24) sejak pukul 13.30 WITA. Kegiatan yang diinisiasi oleh Forum Disabilitas Desa Kemuning dan Pemerintah Desa Kemuning ini melibatkan Tim Dokter dan Fisioterapi Rumah Sakit Siloam, serta didukung penuh oleh PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMMAN) melalui tim Psikolog dari Sekolah Buin Batu dan beberapa karyawan AMMAN.

Sebanyak 7 orang penyandang disabilitas, 22 pasien stroke ringan dan lansia, serta beberapa orang yang memiliki masalah Cidera mendapatkan manfaat dari layanan tersebut. Kegiatan ini tidak hanya dimanfaatkan oleh warga dari Desa Kemuning, melainkan juga oleh warga Desa Sekongkang Atas dan Desa Sekongkang Bawah.

Tim dokter dari Siloam Hospital sedang melayani pasien di Desa Kemuning.(suarantb.com/ist)

Ketua Forum Disabilitas Desa Kemuning (FDDK), Yari Ade Saputra, SH, yang ditemui saat kegiatan menjelaskan bahwa kegiatan ini telah dilaksanakan sebanyak dua kali dimulai pada bulan April 2024 yang lalu, sejak di bentuknya FDDK pada bulan Maret 2024. FDDK sendiri didirikan dengan tujuan meningkatkan kesadaran kesetaraan dan keadilan layanan kesehatan bagi masyarakat penyandang disabilitas. Bang Alex (nama panggilannya Yari Ade Saputra) mengaku bahwa kelompok disabilitas dan keluarganya perlu mendapatkan perhatian penuh dan menjadi motivasi penyemangat bagi penyandang disabilitas beserta keluarganya, agar sehat dan aktif untuk mencapai kemandirian serta kesejahteraan di masa depan.

Kepala Desa Kemuning Erman Maulana, SIP, yang mendampingi kegiatan tersebut menegaskan kegiatan ini sebagai langkah nyata Pemerintah Desa Kemuning dalam mendukung kelompok minoritas terutama penyandang disabilitas untuk menerima layanan kesehatan yang baik sehingga mereka lebih mudah beraktivitas, mengekspresikan diri, serta terlibat dalam kegiatan sosial. Erman juga menambahkan bahwa sudah seharusnya Pemerintah Desa menjalankan amanat Undang-Undang No.8 Tahun 2016 sekaligus bentuk pemenuhan hak masyarakat.

“Kegiatan ini selain amanat undang-undang juga karena hak asasi setiap manusia untuk mendapat perlindungan dari segala diskriminasi. Pemerintah desa harus selalu hadir,” imbuh Erman di tengah warga yang menjalani terapi. Erman menegaskan bahwa kegiatan kedua ini sebagai tindak lanjut atas begitu banyaknya permintaan dari penyandang disabilitas dan keluarganya yang memerlukan layanan kesehatan, fisioterapi dan layanan psikologi. Erman juga menyampaikan ucapatan terima kasih kepada AMMAN dan semua pihak termasuk relawan yang telah mewakafkan waktunya hingga kegiatan ini digelar kembali.

Vice President Social Impact AMMAN, Priyo Pramono, dalam kesempatan terpisah menyampaikan dukungan penuh terhadap kegiatan ini guna memastikan penyandang disabilitas memiliki akses yang setara ke layanan kesehatan, sehingga dapat beraktivitas dan memiliki taraf kualitas hidup yang lebih baik. Tentunya, inisiatif ini perlu kolaborasi yang berkesinambungan dari seluruh pihak terkait, termasuk Pemerintah.

Salah satu keluarga pasien yang tidak mau disebutkan namanya mengaku bahwa layanan tersebut sangat membantu dan dibutuhkan untuk memudahkan akses layanan Kesehatan, khususnya fisioterapi dan dukungan psikologi yang langka dan butuh biaya. “Fisioterapi untuk menjaga kesehatan pasien penyandang disabilitas tidak ada di kecamatan apalagi layanan psikologi bagi kami yang merawatnya, harus ke kota bahkan ke Mataram yang butuh biaya besar. Semoga ini bisa rutin karena sangat membantu kami,” ungkapnya. (r/*)