Inflasi di Mataram di Atas Rata-rata Nasional

0

Mataram (Suara NTB) – Pemerintah Kota Mataram perlu menyiapkan skenario untuk menekan laju inflasi. Pasalnya, inflasi year on year di ibukota Provinsi NTB itu melebihi target nasional.

Ketua Tim Penanggulangan Inflasi Daerah (TPID) yang juga Wakil Walikota Mataram, TGH. Mujiburrahman dalam sambutannya menyampaikan, berdasarkan data yang rilis dari Badan Pusat Statistik pada 3 Juni 2024, inflasi Kota Mataram bulan Mei 2024 year on year sebesar 3,18 persen. Inflasi ini lebih tinggi dar inflasi Provinsi NTB sebesar 2,77 persen bahkan lebih tinggi dari Kabupaten Sumbawa sebesar 2,19 persen dan Kota Bima 2,91 persen.

Sedangkan, inflasi Kota Mataram month to month pada bulan Mei 2024 sebesar 0,08 persen, lebih tinggi dari inflasi Provins NTB minus 0,41 persen dan lebih tinggi dari Kabupaten Sumbawa minus 1,13 persen dan Kota Bima minus 0,19 persen. “Adapun komoditas penyumpang inflasindi Kota Mataram pada bulan Mei 2024 adalah perhiasan, sewa rumah, cabai rawit, angkutan udara dan sepeda motor,” terang Wawali pada Selasa, 11 Juni 2024.

Ditambahkan, penyumpang inflasi bulanan tersebut, menunjukan bahwa inflasi bulan Mei 2024 di Kota Mataram, disebabkan core inflation dan administered price. Sementara, komoditas volatile food yaitu cabai rawit yang menjadi penyumbang inflasi.

Wawali menegaskan, TPID Kota Mataram telah memberikan hasil yang baik dalam mengendalikan inflasi volatile food di tengah peningkatan harga eceran tertinggi beras medium, beras premium, jagung, telur ayam ras, dan daging ayam ras yang menjadi kewenangan pemerintah daerah. “Sedangkan, core inflation dan administered price adalah kewenangan pemerintah pusat,” terangnya.

Di satu sisi, perlu diperhatikan adalah sasaran target inflasi nasional sebesar 2,5 persen ±1. Artinya, minimal inflasi Kota Mataram hanya diperbolehkan 1,5 persen atau tidak  boleh melebihi 3,5 persen.

Menurutnya, banyak hal yang mempengaruhi dinamika inflasi di Kota Mataram. Di antaranya, kondisi geopolitik yang mempengaruhi perekonomian dunia, sehingga kurs rupiah melemah terhadap dollar mengakibatkan peningkatan harga komoditas impor seperti jagung dan beras premium.

Kondisi cuaca yang tidak menentu termasuk terjadinya fenomena el-nino yang menyebabkan musim panas menjadi lebih panjang dari biasanya dan menyebabkan musim tanam dan panen terganggu.

Selanjutnya, hari besar keagamaan, libur sekolah, dan penyelenggaraan MotoGP juga turut mempengaruhi peningkatan kebutuhan masyarakat terhadap komoditas pangan, barang, dan jasa lainnya.

“Bahkan saat ini terjadi peningkatan HET beras medium, beras premium dan peningkatan harga acuan penjualan jagung  telur, dan daging ayam ras,” sebutnya.

Wawali meminta OPD teknis seperti Dinas Perdagangan dan Dinas Ketahanan Pangan melaksanakan pasar rakyat dan gerakan pangan murah. Selain itu, memastikan ketersediaan pasokan melalui program pemanfaatan pekarangan pangan lestari, pemantauan stok dan lain sebagainya.

TPID lanjutnya, perlu konsisten melaksanakan kegiatan konkret dalam rangka pengendalian inflasi dan kegiatan yang selaras dengan strategis 4K pengendalian inflasi (keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif).

“Dengan koordinasi dan sinergi seluruh stakeholder dalam menjaga stabilitas inflasi di Kota Mataram. Kita berharap inflasi dapat stabil di angka 2,5 persen,” demikian kata dia. (cem)