LPPM Unram dan BKKBN NTB Bersinergi Upayakan Penurunan Angka Stunting

0
Pihak LPPM Unram, BKKBN Provinsi NTB, dan narasumber berfoto bersama peserta pembekalan kelompok KKN-PMD periode Juli-Agustus, bertempat di Ruang Sidang Utama LPPM Unram, pada Senin, 10 Juni 2024.(Suara NTB/ist)

Mataram (Suara NTB) –  Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Mataram (LPPM Unram) bersama Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Provinsi NTB menggelar kegiatan pembekalan kelompok Kuliah Kerja Nyata (KKN) Pemberdayaan Masyarakat desa (PMD) periode Juli-Agustus. Kegiatan ini berlangsung di Ruang Sidang Utama LPPM Unram, pada Senin, 10 Juni 2024.

Dalam kesempatan ini hadir Kepala LPPM Unram, Prof. Dr. Ir. Sukartono, M.Agr. didampingi oleh Kepala Pusat KKN dan Kerja Sama Dr. Ir. Misbahuddin, ST., MT., IPU.; Dr. Ir. Hayati, M.Hum.; dan Satgas BKKBN Provinsi NTB, Budiman, M.Sc.

Baca Artikel Lainnya … 

Investor Jepang Tandatangani Rencana Investasi PLTS 20 Megawatt di Lombok

 

Dalam sambutannya, Kepala LPPM Unram, Prof. Sukartono memaparkan, kolaborasi antara Universitas Mataram dengan BKKBN Provinsi NTB ini sebagai bagian dari berupaya menurunkan angka stunting dengan menargetkan angka prevalensi stunting turun di angka 14% pada tahun 2024. Perguruan Tinggi dapat membantu pemerintah untuk memberikan pendampingan kepada keluarga yang beresiko stunting, sehingga ibu-ibu dapat melahirkan bayi yang sehat melalui Tri Dharma Perguruan Tinggi.

“Berdasarkan Perpres Nomor 72 Tahun 2021 sebagai pedoman turunan dalam pelaksanaan Rencana Aksi Nasional Percepatan Penurunan Stunting (RAN PASTI), Perguruan Tinggi termasuk di dalam struktur sebagai Koordinator Monitoring Evaluasi Percepatan Penurunan Stunting. Salah satu peran Perguruan Tinggi adalah turut membantu masyarakat terutama pada pemenuhan gizi yang sehat, beragam dan seimbang,” tegas Prof. Sukartono.

Stunting merupakan salah satu tantangan besar dalam upaya pembangunan sumber daya manusia untuk mewujudkan generasi unggul dan berkualitas. Kendati hasil Studi Kasus Gizi Indonesia (SSGI) Tahun 2021 menunjukkan terjadi penurunan angka prevalensi stunting dari 27,7% pada 2019 menjadi 24,4% pada 2021, angka tersebut masih cukup tinggi mengingat WHO menetapkan standar angka stunting di sebuah negara setidaknya berada di bawah angka 20%. Dengan angka prevalensi stunting 24,4%, artinya 6 juta dari 23 juta anak Indonesia mengalami gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak.

Narasumber utama, Dr. Ir. Hayati, M.Hum. dalam pembekalan KKN-PMD dengan tema Desa sehat ini menerangkan bahwa, stunting diawali dengan kurangnya pengetahuan yang benar dalam pemenuhan gizi baik ibu hamil dan bayi atau anak. Mahasiswa sebagai Agent of Change dapat berkolaborasi dengan mitra misalnya Posyandu, tokoh agama, local champion, Kadus, Kades, Ibu PKK, dan lainnya. Dalam pelaksanaan KKN, penyebaran informasi harus memperhatikan metode dan media.

“Tentukan sasaran kegiatan. Jika sasaran yang dituju skala luas, pendekatan dapat dilakukan dengan misalnya sosialisasi, penyetelan/pembuatan film, baliho, dll. Slogan bisa dijadikan alternatif untuk sebagai bahan ingat dalam melakukan promosi peningkatan gizi,” jelasnya.

Unram melalui Program KKN-PMD sebagai bagian dari pengabdian kepada masyarakat menjadi langkah yang paling strategis dalam memperkuat perencanaan dan penganggaran penanganan stunting, meningkatkan kualitas pelaksanaan kegiatan percepatan penurunan angka stunting, meningkatkan kualitas pemantauan, evaluasi, pelaporan, serta meningkatkan kapasitas sumber daya manusia.

Satgas BKKBN Provinsi NTB, Budiman, M.Sc., menambahkan, peran dan keberadaan mahasiswa KKN-PMD atau MBKM Unram sangat penting dan strategis, hal ini sebagai upaya Unram dalam menangkap isu-isu nasional dan daerah melalui pendekatan akademis yang inovatif.

“Kolaborasi ini menjadi penting karena dalam menurunkan angka tersebut, diperlukan tindakan preventif pada keluarga berisiko. Kegiatan harus dilakukan dengan konvergen, holistik, dan terintetgrasi. Pada tahun 2024 pemerintah melalui BKKBN akan melakukan intervensi serentak. Diharapkan mahasiswa dapat menjadi agen perubahan dengan menjadi mahasiswa peduli stunting,” imbuhnya.

Kegiatan belajar tersebut dapat diterapkan melalui kegiatan pendidikan, pengajaran, penelitian maupun pengabdian masyarakat yang disinergikan bersama BKKBN dapat menjadi peluang penting untuk mengkaryakan mahasiswa melalui program KKN-PMD/MBKM. Oleh sebab itu, percepatan penurunan stunting serius dijalankan dan Unram mampu membantu menyelesaikan permasalahan stunting melalui delapan kegiatan dalam pembelajaran mahasiswa, seperti memberikan sosialisasi, edukasi, antisipasi pada masyarakat yang dilakukan di bawah bimbingan para dosen.

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Pusat KKN dan Kerja Sama LPPM Unram, Dr. Ir. Misbahuddin, ST., MT., IPU. menegaskan hal serupa. Menurutnya, kemampuan analisis mahasiswa diharapkan mampu menggali potensi yang desa. Terutama potensi-potensi lokal yang tersedia untuk membangkitkan ekonomi kreatif, ekonomi hijau, ekonomi biru dan kesehatan mandiri warga desa.

Terdapat beberapa masalah yang umumnya membersamai stunting di antaranya permasalahan ekonomi, pernikahan dini atau merariq kodek, lingkungan, dan lainnya. Karena itu, mahasiswa KKN perlu mengobservasi dan menggali potensi desa.

“Gali potensi pangan lokal yang bisa diubah menjadi produk olahan, misalnya cemilan atau olahan yang bernilai gizi tinggi dan bisa dijual. Hal ini bisa sebagai salah satu peningkatan kesehatan mandiri. Oleh karena itu, mahasiswa dapat bekerja sama dengan UMKM desa untuk meningkatkan ekonomi kreatif,” tutup Misbah. (ron/*)