Perhatikan Tiga Poin Penting agar Program IB Sukses

0

PROGRAM Inseminasi Buatan (IB) dalam rangka meningkatkan populasi sapi di NTB menjadi kebijakan yang bagus. Namun tantangannya di lapangan seringkali IB tersebut mengalami kegagalan. Tentu hal ini tak dikehendaki oleh para peternak, karena akan membuat mereka rugi.

Guru Besar Universitas Mataram, Prof. Soekardono mengatakan, sejumlah  informasi yang diperoleh menunjukkan bahwa dalam penerapan IB ada sasarannya yang kurang tepat. Misalnya, di Sumbawa banyak sapi yang dilepas di padang pengembalaan, sehingga penyuntikan IB pada sasaran tersebut kemungkinan akan banyak gagal.

“Seharusnya (IB-red) pada sapi-sapi yang dipelihara secara intensif, karena ada beberapa faktor yang mempengaruhi keberhasilan IB,” kata Prof Soekardono akhir pekan kemarin.

Setidaknya ada tiga poin penting yang harus diperhatikan untuk mensukseskan program IB ini. Pertama adalah dari peternaknya. Mereka harus tahu kapan birahi sapi yang harus segera disuntik.

“Beda dengan pejantan sapi. Kalau misalnya kumpul sapi, pejantannya tahu persis kapan birahinya, jadinya tepat. Contohnya, satu kelompok yang isinya 20 sapi, ada pejantan satu saja. Pejantannya keliling saja, tahu persis mana sapi yang birahi, langsung dikawinkan,” katanya.

Kalau menggunakan inseminsasi buatan, tergantung peternaknya kapan harus dilakukan, sehingga kalau terlambat melakukan penyuntikan, kemungkinan besar akan gagal.

Kemudian yang kedua, hal yang harus diatensi yaitu dari inseminatornya. Apakah memang keterampilannya sudah teruji atau berpengalaman. Sebab faktor inseminator juga mempengaruhi kesuksesan IB ini.

Ketiga yaitu faktor sarana dan prasarana, termasuk nitrogen atau N2 tidak bisa sembarang ditempatkan. Harus ada penyimpanan, dalam suhu derajat tertentu. Begitu pula jarak tempuh inseminator.

“Kadang-kadang yang terjadi misalnya, inseminatornya masih di Pujut padahal harus melakukan inseminasi di Kopang, jauh perlu waktu. Terlambat ke sana, gagal,” imbuhnya.

Oleh karena itu, program IB memerlukan sistem pewilayahan. Misalnya wilayah dalam jarak tertentu, inseminator harus siap dalam jangka paling lama 30 menit sudah sampai.  “Bisa dibuat sistem seperti itu, misalnya wilayah 1 terdiri dari beberapa kecamatan yang bisa dijangkau,” sarannya.

Kemudian harus dihitung betul berapa banyak inseminatornya. Terutama di Lombok, karena program IB itu digunakan kepada bibit sapi yang bagus. “Dan sekarang kita juga sudah punya pusat bibit, artinya program ini bagus asal mengelolanya bagus,” katanya.

“Tiga hal tadi harus diperhatikan. Peternaknya dilatih, inseminatornya dilatih yang bagus, sarana prasarana lengkap, dan pewilayahan jarak peternak dengan pusat IB,” tutupnya.(ris)