Distan Lotim Sebut IB Banyak Gagal Diduga akibat PMK

0

SEJAK munculnya Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) menyerang ternak sapi, banyak menyebabkan gangguan reproduksi khususnya pada sapi betina. Kondisi ini dinilai berpengaruh pada program peningkatan produktivitas ternak. Salah satunya program Inseminasi Buatan (IB) yang bakal sulit berhasil.

Hal ini dikatakan Kepala Bidang Peternakan pada Dinas Peternakan Lotim, drh. Zulfan Ashry  menjawab Ekbis NTB di kantornya, Kamis, 6 Juni 2024.

Dia menjelaskan, faktor dimaksud antara lain secara eksternal maupun internal. Eksternalnya itu adalah kualitas semen beku yang disuntikkan termasuk petugas yang menyuntikkan. Sedangkan faktor internalnya dari sapi indukan yang disuntikkan IB.

Gangguan internal pada ternak ini di antaranya birahi tidak muncul setelah melahirkan. Kemudian ada namanya birahi terus menerus. Lainnya ovarium tidak berungsi secara optimal. Birahi normal, tapi tidak ada sel telur yang dibuahi oleh sperma maka tidak bisa jadi, sehingga sekuat apapun melakukan IB, tidak bakalan bisa bunting sapi betinanya. Sebelum diperbaiki ovariumnya, maka tidak bisa dilakukan penyuntikan IB.

Atas kondisi ini, pihaknya menyarankan kepada petugas, ketika sudah tiga kali melakukan IB dan tidak berhasil, maka koordinasi segera dengan medic veteriner atau dokter hewan. Karena dokter hewan itulah yang paling mengetahui diagnosa pada ternak. Kalau terjadi gangguan ovariumnya, maka dokter hewanlah yang turun tangan melakukan pengobatan dulu.

Gangguan fungsi ovarium ini erat kaitannya dengan pola pakan ternak. Ketika terjadi PMK, ternak mengalami gangguan pada konsumsi pakan. Bahkan sapi banyak yang ambruk. Asupan gizi pada ternak kurang, maka  jelas berpengaruh pada pada kesiapan ovariumnya

Soal berbayar atau tidak berbayar dalam melakukan  IB, drh Zulfan menjelaskan, pada tahun sebelumnya program IB ternak ini menjadi  bagian dari kegiatan Si Komandan, yakni akronim dari Sapi Kerbau Komoditi Andalan Dalam Negeri. Tetapi, seiring pergantian Menteri Pertanian, berubah lagi namanya dengan nama peningkatan produktivitas ternak.

Dalam pelaksanaan program si komandan dulu tersedia ada biaya operasional untuk petugas IB. Akan tetapi, setelah tidak lagi bernama si Komandan, tidak ada lagi biaya yang tersedia. Biaya operasional ini diserahkan sepenuhnya kepada pemerintah daerah masing-masing sesuai kemampuan daerah. Mengingat kondisi fiskal Lotim yang terbatas, sehingga biaya operasional ini tidak dianggarkan. “Jadi BOP mulai tahun 2024 ini tidak ada,” terangnya.

Bantuan program peningkatan produktivitas ternak ini hanya dalam bentuk straw atau semen  beku. Itupun dalam jumlah yang sangat terbatas. Sementara, Lotim dibebankan target 40 ribu ekor setahun dengan alasan jumlah sapi betina produktif di Lotim mencapai 59 ribu. Awalnya Lotim ditawari target 50 ribu, akan tetapi ditolak Distan Lotim, sehingga ditetapkan target 40 ribu dengan estimasi ada juga yang kawin alami.

Sampai pertengahan tahun 2024 ini, jumlah straw yang diterima Lotim hanya 8 ribu straw baik eksotik maupun Bali. “Terakhir kami terima akhir Mei kemarin 5 ribu,” sebutnya. ‘’Sementara target sangat besar. Teman-teman petugas IB ini pun dibebaskan guna mencapai target. Selain itu, straw yang diberikan dari pemerintah tidak sepenuhnya diterima peternak,’’ tambahnya.

Tidak sedikit peternak, ujarnya, menolak straw gratisan tersebut dengan berbagai argumentasi. Banyak peternak meminta dipilihkan straw dengan kualitas terbaik dan pasti berkualitas dan keberhasilannya. Akibatnya, banyak straw yang kemudian didatangkan di luar yang  tersedia oleh pemerintah tersebut. “Ada yang dibeli jadinya di Bayumulek karena di sana kan ada yang  melayani secara swadaya,” tuturnya.

Satu straw di Banyumulek dijual seharga Rp 10 ribu. Harga stro diakui memang cukup murah, akan tetapi proses dan alat yang harus disiapkan untuk melakukan penyuntikan IB cukup banyak. Tidak ditampik ada petugas yang dibayar Rp 200 ribu sekali suntik itu, karena menggunakan sistem kontrak dengan peternak. Kontrak dimaksud adalah sampai IB berhasil atau sampai pertolongan melahirkannya selesai.

Sistem kontrak itu bukanlah kemauan dari petugas sendiri. Akan tetapi keinginan dari peternak karena tidak ingin gagal IB-nya. Menurutnya, tenaga medis ternak ini beda dengan dokter pada manusia. Dokter hewan ini sendiri yang harus mendatangi pasiennya dengan berbagai risiko. Dokter hewan maupun para petugas lapangan IB ini membutuhkan berbagai jenis bahan yang harus disediakan, sehingga sangat wajar ketiga pekerjaan profesionalisme paramedis hewan ternak ini diberikan penghargaan.

Semua petugas lapagan IB dipastikan sudah memiliki kompetensi. Karena itu merupakan pra syarat untk bisa melakukan IB. Saat ini di Lotim jumlah inseminator di Lotim 200 orang. Sertifikat kompetensi inseminator ini pun tidak boleh mati. “Ketika setifikatnya mati, maka kita minta diperpanjang,” imbuhnya.

Apa yang dilakukan peternak dengan membayar jasa inseminator setiap melakukan pelayanannya tidakah menjadi masalah. Terlebih mengingat risiko yang harus dihadapi para petugas ini. Drh Zulfan mengaku dirinya pernah ditendang oleh ternak sampai pingsan saat melakukan pertolongan kelahiran ternak. “Makanya saya bilang risikonya sangat besar bantu ternak ini, siapa yang bertanggung jawab,” demikian. (rus)