Tingkatkan Kualitas Produk Cokelat Lombok Utara, Disperin NTB Datangkan Ahli dari Puslitkoka Jember

0

Tanjung (Suara NTB) – Dinas Perindustrian NTB melatih para pelaku Industri Kecil dan Menengah (IKM) dalam program One Village One Product (OVOP) di Sentra Cokelat, Kabupaten Lombok Utara. Pelatihan yang berlangsung tiga hari, 5-7 Juni 2024 di Kampung Cokelat Senare, Kecamatan Gangga Lombok Utara ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas dan kualitas produk cokelat lokal sehingga mampu bersaing di pasar nasional dan internasional.

Menghadirkan narasumber, Edi Suharyanto dari Pusat Penelitian Kopi dan Kakao (Puslitkoka) Kabupaten Jember, Jawa Timur, yang berbagi pengetahuan dan pengalaman dalam pengolahan serta pengembangan produk cokelat.

Kepala Bidang Industri Dinas Koperasi Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Lombok Utara, H. Haris Nurdin menyampaikan pentingnya mengembangkan potensi daerah dengan menyediakan bahan baku, mengolahnya menjadi barang setengah jadi, dan kemudian menjadi barang jadi.

“Tugas kita adalah bagaimana mengembangkan potensi yang ada di daerah. Bagaimana petani cokelat ini mengembangkan usaha taninya dengan menjalin kerjasama dengan pihak luar sebagai mitra,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Perindustrian Provinsi NTB, Nuryanti.,SE.,ME melalui Kepala Bidang Kerjasama, Arifin, SH., MH, menyampaikan,  kegiatan pelatihan sekaligus pembinaan ini dilaksanakan secara lebih prioritas dan terfokus pada wilayah serta pasar tertentu sehingga hasil yang dicapai dapat terukur, akuntabel, efektif, dan efisien.

“KLU sangat kaya dengan hasil alam seperti madu, buah duren, vanili, coklat, kopi, dan lainnya,” katanya.

Arifin menjelaskan bahwa OVOP merupakan metode pendekatan dalam pengembangan potensi di satu wilayah untuk menghasilkan produk kelas global yang unik dan khas daerah dengan memanfaatkan sumber daya lokal.

Pembinaan OVOP ini dilaksanakan untuk mendukung pembangunan Usaha Ekonomi Kreatif lokal masyarakat yang potensial, mendorong kreativitas produksi, dan pengembangan usaha sebagai produk makanan khas Lombok NTB.

“Keberhasilan pada pengembangan sektor ini dapat berdampak pada SDM, membuka lapangan pekerjaan, serta dapat meningkatkan pendapatan IKM di NTB,” jelasnya.

Kriteria pengembangan OVOP harus mampu memberdayakan produk yang bersumber dari bahan lokal, unik, menjadi kebanggaan daerah, dan memiliki nilai jual tinggi. Sasaran akhir dari OVOP adalah membuat IKM di sentra semakin mandiri, SDM di sentra semakin profesional, institusi pendukung semakin kuat, motivasi, kreativitas, dan inovasi semakin berkembang.

Jumlah kreasi produk IKM yang unik dan khas daerah semakin banyak, IKM semakin sehat, kuat, dan berkembang, lapangan kerja di sektor IKM semakin banyak, kualitas hidup masyarakat semakin meningkat, kontribusi IKM terhadap PDB/PDRB semakin meningkat, dan pemerataan pembangunan ke seluruh wilayah Indonesia semakin meningkat.

Dengan adanya pelatihan ini, diharapkan para pelaku IKM di Sentra Cokelat Lombok Utara dapat meningkatkan kualitas produknya, menjalin kerjasama yang lebih luas, serta mampu berinovasi untuk mengembangkan usahanya lebih baik lagi. (bul)