Musim Kemarau Segera Tiba, BPBD NTB Sarankan Petani Hemat Pemanfaatan Air

0

Mataram (Suara NTB) – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi NTB mengimbau kepada para petani di daerah untuk menghemat pemanfaatan air untuk pertaniannya, terutama di penanaman padi musim taman kedua. Sebab NTB segera akan memasuki musim kemarau yang mana kondisi air irigasi menjadi terbatas. Sementara bendungan atau embung yang ada di NTB belum terisi dengan penuh akibat el nino sejak akhir tahun kemarin.

Kepala Pelaksana BPBD NTB, H. Ahmadi mengatakan, padi adalah salah satu jenis tanaman yang paling banyak membutuhkan air. Maka penghematan air untuk persawahan bertujuan agar petani tidak mengalami gagal panen saat musim tanam kedua. Karena itu petani disarankan untuk menanam palawija di musim tanam kali ini, sebab palawija tak membutuhkan banyak air seperti halnya padi.

“Kondisi embung kita kan belum terisi sepenuhnya karena el nino kemarin. Jadi harus betul-betul irit air. Kemudian jumlah sawah untuk padi itu sebaiknya dikurangi, karena padi paling banyak gunakan air. Tujuannya agar jangan gagal di MT (musim tanam-red) II ini,” ungkap Ahmadi kepada Suara NTB Senin (13/5) kemarin.

Saat memasuki musim tanam ke-tiga tahun ini, Ahmadi memperkirakan air berjumlah sangat sedikit. Oleh karena itu, ia menyarankan kepada para petani agar tidak lagi menanam padi, melainkan hanya palawija. Hal ini untuk mengantisipasi risiko gagal tumbuh karena kelangkaan air. Sebab, musim penghujan akan datang dalam jangka waktu enam bulan kedepan.

“Yang kami maksud dari pengiritan air adalah petani mesti menerapkan manajemen tanam dengan sebaik-baiknya. Jangan terlalu banyak menanam padi, terutama pada wilayah yang sulit air,” tandas Ahmadi.

Sebelumnya BMKG Stasiun Klimatologi Nusa Tenggara Barat dalam rilisnya menyatakan bahwa pada dasarian II bulan ini atau 11 – 20 Mei 2024 diprediksi potensi hujan di NTB semakin berkurang. Peluang curah hujan dengan intensitas di atas 20mm/dasarian dengan probabilitas 10 -20 persen berpeluang terjadi di sebagian besar wilayah NTB.

Prakirawan BMKG Stasiun Klimatologi Nusa Tenggara Barat Yuhanna Maurits mengatakan, saat ini wilayah NTB berada pada periode peralihan musim hujan menuju musim kemarau. Karena itu , masyarakat perlu mewaspadai adanya potensi bencana hidrometeorologi seperti hujan lebat disertai angin kencang yang dapat terjadi secara tiba – tiba dan bersifat lokal, banjir dan tanah longsor.

“Selain itu, beberapa dareah sudah memasuki musim kemarau, masyarakat dapat memanfaatkan hujan yang turun untuk mengisi penampungan air seperti embung, waduk, atau penampungan air hujan lainnya,” ujar Yuhanna akhir pekan kemarin.

Melihat data sebelumnya, curah hujan di wilayah NTB pada dasarian I Mei  2024 secara umum dalam kategori Rendah (0 – 50 mm/dasarian). Sifat hujan pada dasarian I Mei 2024 di wilayah NTB umumnya didominasi kategori Bawah Normal (BN). Curah hujan tertinggi di pos hujan Sigerongan, Kabupaten Lombok Barat sebesar 53 mm/dasarian.

Adapun monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut – turut (HTH) provinsi NTB secara umumnya berada pada katagori Menengah (11 – 20 hari). HTH terpanjang tercatat di Pos Hujan Moyohilir, Kabupaten Sumbawa selama 23 hari. (ris)