Diduga Modus Nota Fiktif, Karyawan Gelapkan Dana Perusahaan Rp2,6 Miliar

0

Sumbawa Besar (Suara NTB) – Kepolisian Resor (Polres) Sumbawa, mengamankan dua orang terduga pelaku penggelapan dana perusahaan di PT Subur Mega Perkasa (SMP) mencapai Rp2,6 miliar dengan modus membuat nota fiktif.

“Kedua pelaku yakni MR (24) dan SB (26) kita amankan setelah menerima laporan dari korban WHC yang juga selaku Direktur perusahaan tempat keduanya bekerja,” kata kasat Reskrim Polres Sumbawa, Iptu Regi Halili kepada wartawan, Senin, 13 Mei 2024.

Baca Artikel Lainnya … 

Terpilih Aklamasi, Ketut Jaya Kembali Pimpin DPD AHLI NTB

 

Dikatakannya, kedua pelaku melakukan aksi tersebut sejak bulan Maret hingga bulan Mei 2023 dengan modus membuat nota fiktif. Selain itu, keduanya juga sengaja memanipulasi berat dan kadar air di jagung yang dijual ke salah satu perusahaan.

“Jadi, saat keduanya kita amankan, kita turut menyita 73 nota fiktif dan 73 nota laporan barang termasuk rekening dari pelaku,” ucapnya.

Dijelaskannya, kasus ini berawal ketika MR dan SB (quality control) sepekat untuk membuat nota fiktif barang. Dimana SB menemui MR untuk melakukan penggelapan uang perusahaan dengan cara membuat nota fiktif.

“Jadi, SB dan MR merupakan karyawan di perusahaan itu, MR selaku admin dan SB sebagai quality control jagung yang akan dijual,” ucapnya.

Dia melanjutkan, namun sebelum membuat nota fiktif itu, MR berkomunikasi dengan A (quality control) terkait ciri-ciri truk yang dikirim oleh SB. SB juga sebelumnya juga sudah berkomunikasi dengan Supplier jagung bernama AS untuk memuluskan aksi keduanya.

“AS kemudian membuat janji dengan MR untuk membuat nota fiktif dengan mengatasnamakan dirinya (AS) selaku supplier jagung,” timpalnya.

Selain nota fiktif, SB juga meminta MR untuk menambah berat jagung di nota pembelian untuk menambah berat jagung dari aslinya. Sehingga dengan hal tersebut A mengurangi kolom kadar air dan menambah jumlah karung.

“Jadi, MR menambah berat jagung di nota dan menandatangi nota keluar. Setelah itu, MR menyerahkan kepada sopir untuk diberikan AS,” tambahnya.

Selanjutnya SB menyerahkan nota tersebut kepada AS selaku supplier. Setelah itu MR memasukan nota fiktif tersebut ke dalam sistem untuk dikirim ke pusat seolah-olah data tersebut benar.

“Jadi, nota fiktif yang diserahkan oleh SB kepada AS sebagai syarat PT SMP membayar jagung tersebut senilai Rp2,6 miliar tersebut,” ucapnya.

Uang hasil pembayaran tersebut kemudian diserahkan ke SB dengan cara transfer. Uang itu pun kemudian dibagi tiga yakni MR, SB, dan A dengan jumlah yang sama untuk digunakan secara pribadi.

“Jadi, baru orang yang sudah kita tetapkan sebagai tersangka dan ditahan, sementara untuk tiga orang lainnya masih dilakukan penyidikan lebih lanjut,” tukasnya. (ils)