Masih Jadi Persoalan Sektor Pariwisata

0

HARGA tiket pesawat masih menjadi persoalan sektor pariwisata, khususnya di NTB. Berbagai upaya promosi dilakukan untuk meningkatkan kunjungan, namun  masih terkendala oleh tingginya harga layanan maskapai penerbangan ini.

Pelaku perjalanan wisata berharap agar pemerintah melakukan intervensi harga tiket pesawat di pasaran melalui maskapai penerbangan pelat merah.

Ketua Asosiasi Travel Agen Indonesia (Astindo) NTB, Sahlan M Saleh, mengatakan, maskapai pemerintah di bawah naungan BUMN (Garuda Indonesia) bisa menjadi jalan tengah untuk mengurai terjadinya monopoli oleh maskapai tertentu.

“Untuk menurunkan harga tiket dari maskapai swasta agak sulit diintervensi. Untuk itu diharapkan pemerintah pusat dan daerah bisa komunikasikan dengan maskapai agar menurunkan harga tiket pesawatnya. Misalnya, kita turunkan saja harga (tiket pesawat) Garuda yang punyanya pemerintah. Harus turunkan harga tiket pesawat. Ini masyarakat, pariwisata sudah menjerit – jerit,” ungkapnya pekan kemarin.

Sahlan menyebut harga tiket penerbangan domestik terbilang mahal sampai saat ini. Sehingga muncul fenomena wisatawan domestik lebih memilih berwisata ke luar negeri, seperti ke Singapura, Malaysia dan Thailand daripada berwisata di dalam negeri.

Bahkan menurut Sahlan, wisatawan yang akan datang ke Lombok, Labuan Bajo NTT atau Raja Ampat Papua lebih memilih berwisata ke negara-negara seperti Jepang dan Korea. Di samping sebagai alternatif pilihan untuk berwisata, mereka juga mendapat melihat keindahan yang tidak ada di Indonesia.

“Harga tiket kita menurut wisatawan jauh lebih mahal dari pada ke luar negeri. Katakan saja ke Singapura, Malaysia, Thailand. Mereka bisa mendapatkan tiket rerun Rp1 juta saja. Sementara kita, oneway (sekali jalan) di dalam negeri saja belum tentu dapat Rp1 juta,” terangnya.

Menurutnya, persoalan ini bagian dari kendala dalam meningkatkan kunjungan wisatawan di NTB khususnya. Astindo sangat mengeluhkan harga tiket yang menurut masyarakat sangat mahal dibanding keluar negeri.

“Di Lombok ini kita berjuang promosi sekuat tenaga, tetapi ujungnya untuk aksesibilitasnya butuh biaya yang tinggi. Sehingga itu jadi penghambat,” ucapnya.

Di sisi lain subsidi penerbangan dari pemerintah tidak bisa berharap banyak. Kecuali subsidi tiket pesawat dilakukan dalam jangka pendek, masih memungkinkan. Untuk jangka panjang, menurutnya, sangat tidak memungkinkan, karena pembiayaanya menjadi cukup mahal.

NTB memiliki satu dari lima destinasi pariwisata super prioritas, yaitu, KEK Mandalika. Namun sayangnya, harga tiket pesawat dari dan ke Lombok masih tinggi. Sehingga tak jarang, tamu atau wisatawan domestik maupun mancanegara  lebih memilih ke Bali, baru kemudian menggunakan kapal cepat ke Lombok.

“Karena itu, Harusnya ada perintah langsung atau mengeluarkan regulasi yang menyarankan maskapai untuk memberikan harga tiket pesawat domestik ini diturunkan. Atau dari pihak BUMN kita, Angkasa Pura menurunkan komponen-komponen biaya, supaya kunjungan atau penumpang pesawat kita lebih banyak,” tandasnya.(bul)