Mahalnya Harga Tiket Pesawat Jadi Tantangan Industri Pariwisata

0

Harga tiket pesawat ke dan dari NTB cukup mahal. Dibandingkan penerbangan ke luar negeri, harga tiket pesawat lebih terjangkau, sehingga tidak sedikit wisatawan domestik lebih memilih berlibur ke luar negeri dibandingkan harus ke NTB. Sementara tahun 2024, banyak sekali event bertaraf nasional dan internasional yang digelar di NTB. Jika harga tiket pesawat masih mahal, maka jangan salahkan jika masyarakat lebih memilih menonton di luar negeri.

PEMERINTAH berencana mensubsidi penerbangan ke dan dari NTB. Rencana pemberian subsidi ini, karena Pulau Lombok, khususnya Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika masuk sebagai Destinasi Pariwisata Super Prioritas (DPSP) bersama empat daerah lain di Indonesia. Dibandingkan ke luar negeri, khususnya Malaysia, harga tiket pesawat dari Bandara Internasional Zainuddin Abdul Madjid (BIZAM) ke beberapa daerah di Indonesia, seperti Denpasar, Jakarta, Surabaya dan kota besar lainnya cukup mahal.

Suasana penumpang dan penerbangan di BIZAM. Sekarang ini harga tiket pesawat dari dan menuju BIZAM masih mahal. (Ekbis NTB/dok)

Tahun 2024 in harus diakui banyak event berskala internasional akan digelar di NTB, seperti Motoross Grand Prix (MXGP), MotoGP dan event lainnya. Hal ini butuh dukungan dari pemerintah pusat, khususnya dari sisi harga tiket pesawat agar dalam pelaksanaannya bisa berjalan lancar.  Selain itu, semakin banyak penonton dari luar daerah akan datang menonton event kejuaraan balap motor tingkat dunia di NTB.

Jika ini tidak mendapatkan perhatian, maka jangan harap penonton dari daerah lain, khususnya yang ingin menonton MotoGP dari kota-kota besar akan datang ke NTB. Sementara di satu sisi, Sirkuit Sepang di Malaysia juga menjadi tuan rumah MotoGP. Bagi yang realistis dan penuh dengan perhitungan, tentu akan memilih menonton jagoan mereka di Sirkuit Sepang, karena harga tiket pesawat menuju Kuala Lumpur dan sebaliknya menuju sejumlah bandara di Indonesia cukup murah. Dalam arti, harga 1 tiket peaswat menuju Lombok, sama artinya, dengan harga tiket pesawat bolak balik menuju Kuala Lumpur.

Hal ini diakui Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) Provinsi NTB Jamaluddin, S.Sos., M.T. Sekarang, ungkapnnya, harga tiket pesawat ke Kuala Lumpur dari BIZAM cukup hanya membayar Rp400-600 ribu. Beda halnnya dengan harga tiket pesawat dari BIZAM menuju sejumlah bandara di Indonesia.

‘’Kami juga merasakan tiket mahal ke Lombok. Masyarakat biasa, wisatawan juga merasakannya.  Kemarin yang saya sampaikan lewat media itu masih dirapatkan di tingkat Kemenko Marvest. Sampai sekarang kami menunggu realisasi apa yang disampaikan oleh Menko Marvest saat itu. Memang belum mulai dilaksanakan. Saya sampaikan saat itu masih dirapatkan,’’ ungkapnya pada Ekbis NTB, Minggu, 12 Mei 2024.

Jika nanti pemerintah menyetujui diberikan subsidi harga tiket pesawat, ujarnya, akan berlaku selama 3 bulan, yakni bulan Juni, Juli dan Agustus. Meski demikian, pihaknya berharap ini bisa direalisasikan, karena pemerintah daerah hanya sebatas menunggu.

‘’Ini pun kalau jadi. Sekarang lagi berproses di Kemenko Marvest, karena target wisatawan nusantara dan mancanegara cukup tinggi. Seperti disampaikan pemerintah pada akhir tahun 2023 bahwa tahun 2024 ini adalah tahun peningkatan ekonomi masyarakat. Nah ini yang bisa cepat peningkatan ekonomi masyarakat itu adalah melalui bisnis pariwisata,’’ ujarnya.

Untuk itu, ketika pemerintah pusat membuat program subsidi tiket pesawat, pihaknya sangat mendukungnya. Pasalnya, jika tidak ada subsidi, maskapai tidak mau membuka rute penerbangan, baik dari nusantara atau ke rute penerbangan intternasional

‘’Mudah-mudahan dalam waktu dekat, sudah ada informasi itu, karena bukan saja NTB yang harga tiket pesawatnya mahal, tapi ke seluruh Indonesia. Ini yang disampaikan Bapak Menparekraf (Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif) saat datang ke Lombok belum lama ini,’’ tambahnya.

Menurut Menparekraf, ungkapnya, harga tiket pesawat mahal, karena tidak semua pesawat melayani penerbangan saat ini. Banyak pesawat yang sedang dalam proses perbaikan dan menunggu datangnya sparepart, karena saat pandemi Covid-19, pesawat itu banyak yang tidak dioperasionalkan.

‘’Semua maskapai di seluruh dunia mengalami hal yang sama, banyak pesawatnya yang butuh perbaikan. Akhirnya terjadi penerbangan tiket mahal, karena sedikit pesawat yang terbang,’’ tegasnya.

Di sisi lain, ujarnya, secara pribadi atau orang bisnis, sekarang harga tiket mahal dan pesawatnya ada, mesti bersyukur. Namun, ketika harga tiket pesawat mahal, pesawatnya tidak ada yang terbang ke bandara di NTB, itu akan membuat pelaku bisnis akan kecewa.

Mantan Staf Ahli Gubernur Bidang Sosial dan Kemasyarakatan ini menambahkan, pihaknya akan terus berkoordinasi dengan pemerintah pusat dan menanyakan terkait masalah subsidi penerbangan ini. Pekan ini, ungkapnya, ada rapat bersama dengan pihak Kemenko Marvest dan pihaknya kembali akan menanyakan masalah subsidi penerbangan ini. Pihaknya berharap, pemerintah pusat menyetujui rencana pemberian subsidi tiket pesawat ini, karena dampaknya  bagi pariwisata NTB sangat besar.  (ham)