Kerajinan Bambu, Usaha Turun-Temurun yang Produknya Diminati Warga Asing

0

Praya (Suara NTB) – Di sepanjang jalan Kopang, Lombok Tengah, akan banyak ditemukan perajin bambu yang menjajakan hasil karyanya. Kerajinan bambu ini merupakan kerajinan turun-temurun yang sudah menjadi mata pencaharian masyarakat Kopang di zaman dahulu.

Menurut salah satu perajin Bambu, Rusni mengatakan bahwa kerajinan bambu di Desa Kopang, Kecamatan Kopang menjadi mata usaha yang dilakukan oleh nenek moyangnya, sampai dengan saat ini, kerajinan Bambu Kopang masih sangat eksis bahkan sampai melakukan pengiriman keluar daerah.

“Kalau usaha kerajinan Bambu sudah bertahun-tahun, dari nenek moyang berketurunan kalau bambu, biasa keluar daerah asal ada Usaha Dagang (UD), saya sendiri biasa mengirim ke Sumbawa dan ke Bima,” ungkapnya pada Kamis, 9 Mei 2024.

Kerajinan Bambu ini tidak hanya diminati oleh masyarakat dalam negeri, tetapi juga masyarakat luar. Biasanya warga asing yang menetap di Lombok banyak menjadikan kerajinan Bambu sebagai pilihan membangun rumah.

“Kalau orang luar negeri belanja, tapi di pasang di Lombok banyak, seperti ada yang dari Korea, membuat bangunan di kawasan Mandalika, Taiwan yang membuat bangunan di Surabaya Lepak, bahkan ada yang dari Swiss,” ujarnya.

Adapun kerajinan yang biasa dibeli oleh warga asing biasanya Gazebo atau rumah bambu yang dimodifikasi.

Rusni menjual berbagai macam jenis kerajinan Bambu, mulai dari Gazebo, Ilalang, Pagar Rumah, Kelabang, bahkan Pemanjuk yang biasa digunakan oleh petani untuk menyangga tanaman.

Untuk harga Gazebo, Rusni menjual dua ukuran Gazebo, yang kecil diberi harga mulai dari Rp1.700.000, dan Ga zebo besar dijual dengan harga Rp2.500.000 belum termasuk ongkos kirim.

Ia mengatakan bahwa kerajinan bambu menjadi satu-satunya mata pencaharian yang digeluti saat ini, adapun di setiap bulannya, ia biasa mendapatkan Rp5-7 juta dari hasil berjualan kerajinan Bambu. (era)