Capaian Area Tanam MT1 di KSB Tidak Maksimal

0

Taliwang (Suara NTB) – Capaian luas tanam pada musim tanam (MT) 1 tahun 2024 ini di Kabupaten Sumbawa Barat tidak maksimal. Berdasarkan data Dinas Pertanian setempat, pada periode tanam Oktober-Maret (Okmar) itu hanya sebanyak 69 persen lahan yang bisa ditanami oleh petani di seluruh kecamatan.

Di MT 1 tahun ini jumlah lahan yang ditargetkan dapat ditanami padi seluas, 9.577 hektar. Tetapi kemudian yang hanya bisa terealisasi hanya seluas 6.639,67 hektar. Data Dinas Pertanian menunjukkan, capaian terkecil penanaman terjadi di kecamatan Poto Tano yang hanya 1 persen atau 34,44 hektar yang bisa ditanami hingga memasuki bulan April 2024.

Penurunan juga terlihat di beberapa kecamatan yang selama ini menjadi wilayah lumbung padi KSB. Contoh di kecamatan Taliwang dari luas baku sawah 2.340,68 hektar yang akhirnya bisa ditanami oleh petani hanya 1.314,66 hektar atau 56 persen hingga memasuki bulan April lalu.

Satu-satunya wilayah pertanian yang bisa mencapai 100 persen penaman masih berdasarkan data Dinas Pertanian KSB, hanya terjadi di kecamatan Brang Rea. Di wilayah utama lumbung padi KSB ini, bahkan terjadi surplus hingga 103 persen dari target luas tanam 1.875,7 hektar capaian realisasi tanamnya tembus pada angka 1.924,12 hektar.

Sedangkan di 6 kecamatan lain, capaiannya diantaranya di kecamatan Brang Ene sebanyak 93 persen dengan luas 687,53 hektar. Berikutnya di kecamatan Seteluk sebanyak 80 persen dengan luas tanam 2.034,10 hektar atau 80 persen dari total target 2.254,9 hektar. Kecamatan Jereweh seluas 224,23 hektar atau 20 persen dari target 1.005,3 hektar.  Selanjutnya di kecamatan Maluk capaiannya seluas 18,00 hektar dan di kecamatan Sekongkang 402,59 hektar.

Kepada Dinas Pertanian, Muhammad Saleh mengatakan, turunnya luasan tanam di MT1 itu sebagai dampak dari musim kemarau yang terjadi di awal tahun. Ditambah lagi tidak maksimalnya pemanfaatan saluran irigasi teknis dikarenakan adanya kegiatan pembangunan saluran irigasi bendungan Bintang Bano serta perbaikan irigasi Kalimantong I dan Kalimantong II.

Pada MT2 yang saat ini sudah mulai berlangsung di beberapa wilayah, Saleh mengaku, pihaknya memprediksi akan sama dengan MT1. Dimana luasan capaian tanamnya tidak akan maksimal. “Memang ada ada bantuan mesin sedot air yang sumur bor yang dijanjikan oleh pusat. Tapi mungkin itu baru bisa dimanfaatkan petani di musim tanah ketiga. Makanya kami sudah imbau petani agar tidak memaksakan diri menanam padi,” cetusnya.

Dengan tidak maksimalnya areal tanam di MT1, Saleh selanjutnya menyampaikan, hal itu tentu akan berpengaruh terhadap tingkat produktivitas hasil panen petani. “Sekarang belum kami hitung. Tapi sudah pasti kan, karena capaian area tanam tidak maksimal, maka pastinya produksi padi kita juga akan turun,” imbuhnya. (bug)