Hikayat Lebaran Topat, Ikhtiar Merawat Tradisi dan Toleransi Beragama

0

Pemerintah Kota Mataram menggelar lebaran topat yang dipusatkan di dua lokasi. Yakni, Makam Bintaro, Kelurahan Bintaro Jaya, Kecamatan Ampenan dan Taman Wisata Loang Baloq di Kelurahan Tanjung Karang, Kecamatan Sekarbela. Hikayat lebaran topat sebagai ikhtiar merawat dan toleransi beragama.

Kegiatan Lebaran Topat di Makam Bintaro dihadiri  Walikota Mataram, H. Mohan Roliskana bersama istri Hj. Kinnastri Mohan Roliskana didampingi Ketua DPRD Kota Mataram, H. Didi Sumardi, Sekretaris Daerah Kota Mataram, Lalu Alwan Basri, Asisten Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Kota Mataram, H. Lalu Martawang, Kapolresta Mataram Kombes Pol. Ariefaldi Warganegara beserta pimpinan OPD, camat dan lurah se-Kecamatan Ampenan.

Sementara, perayaan lebaran topat di Taman Loang Baloq dihadiri Wakil Walikota Mataram, TGH. Mujibburahman.

Sebelum puncak acara pemotongan topat agung dan pemukulan beduq, Walikota Mataram H. Mohan Roliskana beserta istri dan forkopimda lainnya melakukan ziarah di makam Habib Husain Bin Umar Mashur. Kemudian dilanjutkan dengan ngurisan dan begibung (makan bersama).

Ketua Panitia Lebaran Topat di Makam Bintaro, Rudi Herlambang menerangkan, perayaan lebaran topat merupakan agenda rutin yang digelar setiap tahun setelah enam hari melaksanakan puasa di bulan Syawal. Tema diusung adalah hikayat lebaran topat. Selain merayakan lebaran topat, juga disampaikan riwayat atau sejarah penyebaran agama Islam di Pulau Lombok. “Kita harapkan agenda ini dapat mempererat silaturahmi antara tokoh-tokoh agama dengan pejabat di Lingkup Pemkot Mataram,” kata Rudi pada Rabu, 17 April 2024.

Sementara itu, Walikota Mataram H. Mohan Roliskana menjelaskan, perayaan lebaran topat sebagai investasi amal yang harus dijaga dan dirawat dalam menghadapi masa-masa yang akan datang.

Dari tema yang diusung yakni, Hikayat Lebaran Topat memiliki tujuan filosofis yang harus direnungkan bersama tentang perjalanan dan penyebaran agama Islam di Pulau Lombok. “Dari 10 tahun saya menjadi wakil walikota dan tiga tahu jadi walikota, baru sekarang dibacakan hikayat,” terangnya.

Lebaran topat merupakan tradisi yang harus dirawat bersama. Orang tua terdahulu memiliki maksud menggelar perayaan lebaran topat bukan semata-mata bersenang-senang dan makan bersama, melainkan ada makna tersirat terutama menjaga toleransi beragama.

Dikatakan Walikota, pelaksanaan lebaran topat di Kota Mataram difokuskan di Makam Bintaro dan Taman Loang Baloq. Dua lokasi ini selalu menjadi lokasi perayaan karena kebetulan ada pendakwah yakni, Habib Husein Bin Umar Mashur disemayamkan di Makam Bintaro. Sedangkan, di Makam Loang Baloq dimakamkan Syeikh Gaus Abdurrazak. “Keduanya adalah auliya yang menyebarkan agama Islam di Pulau Lombok,” jelasnya.

Tradisi keagamaan diharapkan tidak berlalu begitu saja tanpa pemaknaan berarti. Lebaran topat dijadikan bagian dari warisan yang dirintis oleh orang-orang terdahulu sehingga bisa dirasakan maknanya oleh generasi seterusnya.

Oleh karena itu, kegiatan ini diharapkan dapat memberikan kebaikan dan manfaat bagi masyarakat. (cem)