Beras Impor Masuk NTB, Disdag Memilih Enggan Komentar

0

Mataram (Suara NTB) – Dinas Perdagangan Kota Mataram enggan mengomentari masuknya beras impor asal Vietnam yang masuk ke Nusa Tenggara Barat. Di satu sisi, petani telah memasuki masa panen dan harga beras lokal relatif stabil.

Kepala Bidang Barang Pokok dan Penting pada Dinas Perdagangan Kota Mataram, Sri Wahyunida dikonfirmasi pada Selasa, 2 April 2024 menolak untuk mengkomentari masuknya beras impor asal Vietnam ke NTB. Ia memilih menyarankan sepenuhnya ke Badan Urusan Logistik (Bulog) untuk memberikan penjelasan kepada masyarakat. “Kalau itu saya no comment. Biarkan saja Bulog yang jawab,”  jawab Nida.

Nida justru memilih menjelaskan tentang harga beras yang mulai melandai. Bahkan, tim pengendali inflasi daerah (TPID) Kota Mataram bekerjasama dengan Bank Indonesia Kantor Perwakilan NTB telah membentuk toko pengendali inflasi di Pasar Kebon Roek. Ia menyebutkan, harga beras premium Rp13 ribu per kilogram. Artinya, harga beras di pasar tradisional di bawah harga eceran tertinggi (HET). “Sekarang harga beras mulai melandai,” terangnya.

Permasalahan harga beras mulai turun, tetapi beras impor masuk ke NTB. Apakah layak dan tidak merugikan petani. Nida kembali enggan memberikan komentar mengenai hal tersebut.

Meskipun telah memasuki masa panen raya, tetapi produksi berasnya jenis premium bukan medium yang diminati oleh masyarakat. Beras stabilitas pasokan dan harga pangan (SPHP) diminati karena standar beli masyarakat. “Dengan melandainya harga beras premium bisa terjangkau,” terangnya.

Seperti diketahui, Perum Bulog NTB mengusulkan 35.000 ton beras dari luar untuk dimasukkan ke NTB. Beras dari luar ini berasal dari luar negeri atau daerah lain yang stoknya tinggi. Saat ini, Bulog wilayah NTB sudah mendapatkan persetujuan memasukkan sebanyak 11.000 ton dari total 35.000 ton yang diusulkan. Dengan asumsi, Perum Bulog NTB membutuhkan ketahanan stok 8.500 ton setiap bulannya. (cem)