Agar Tidak Terjadi Kerawanan Pangan

0

PERUM Kanwil NTB dalam mengantisipasi dampak elnino yang berakibat terhadap kenaikan komoditi beras telah mendatangkan beras dari Luar NTB sejak Bulan Januari 2024 untuk kebutuhan stabilisasi harga beras di pasaran dan bantuan pangan.

Kebutuhan Bulog NTB setiap bulan kurang lebih 8.500 ton itu di gelontorkan untuk Bantuan Pangan sejumlah 6.430 ton/bulan untuk 643.000 Penerima Bantuan Pangan (PBP) dan Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) sekitar 2.000 ton per bulan.

Menurut Pimpinan Wilayah Perum Bulog NTB, Raden Guna Dharma di Mataram, Senin, 1 April 2024 , hal ini tentunya bertujuan memenuhi kebutuhan pangan di masyarakat agar tidak terjadi kerawanan pangan akibat elnino. Dampaknya, kata Awang, panggilan akrabnya, sejak Januari 2024 bantuan pangan digelontorkan dan SPHP dimasifkan harga beras bisa terkendali dan berangsur turun sejak Bulan Maret 2024.

Menurutnya, kebutuhan Perum Bulog NTB untuk bantuan Pangan saja selama 6 bulan, atau sampai dengan Juni 2024 sejumlah 38.580 ton dan SPHP selama 1 tahun sejumlah 24.000 ton dengan total kebutuhan sekitar 62.580 ton. “Karena dampak kekurangan stok sejak awal tahun akibat elnino maka didatangkan beras dari luar NTB sejak Januari 2024 sejumlah 35.000 ton,” bebernya.

Awang menambahkan, jumlah 35.000 ton ini hanya untuk kebutuhan bantuan pangan dan SPHP sampai dengan Bulan April 2024 atau sebatas sebelum memasuki masa panen raya di NTB. Dari kuota 35.000 sudah datang di NTB sejak Bulan Januari 2024 sejumlah 20.000 ton dari dari Jawa Timur dan sisanya 2.000 ton masih dalam tahap pengiriman. Selanjutnya sisanya sejumlah 13.000 ton langsung datang dari vietnam.

“Sekarang sedang pelaksanaan bongkar sejumlah 3.750 ton dan sisanya pada april 2024,” terangnya. Beras yang datang ini sudah disalurkan sejak Januari 2024 untuk kebutuhan pangan dan SPHP untuk stabilisasi Pasar sampai dengan maret sejumlah 22.500 ton. Selanjutnya beras yang datang dari vietnam ini akan habis disalurkan pada Bulan April dan sebagian di mei untuk kebutuhan bantuan pangan dan SPHP.

Perum Bulog NTB berharap untuk kebutuhan beras mulai dari Bulan Mei sampai dengan Desember 2024 kita bisa menggunakan beras panen Lokal NTB. Hal ini tentunya tidak terlepas dari keberhasilan panen kita tahun ini dan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) cocok di petani. “Kebutuhan kita selama Mei sampai dengan Desember 2024 Kurang lebih 60.000 ton beras.

Harapannya ini seluruhnya dari produksi petani Lokal di NTB. Maka tentunya Perum Bulog sangat berharap para penggilingan maupun petani menjual Gabah/beras ke Bulog untuk memenuhi cadangan beras pemerintah minimal untuk wilayah NTB,” ujarnya. Selanjutnya, sejak awal tahun Bulog sudah membuka untuk pembelian beras dalam negeri (lokal), namun harga ditingkat petani masih tinggi.

“Kita berharap panen raya di April ini cocok harga dengan Bulog,” demikian Awang. Selain itu, masuknya beras Vietnam ini akan habis pada April – Mei 2024 untuk bantuan pangan. Dan dipastikan beras impor ini tak mengganggu kondisi panen petani. Dan Bulog NTB komitmen menjaga harga gabah/berars dengan instrumen standar Harga Pembelian Pemerintah (HPP) minimal dengan harga 5000/Kg untuk Gabah Kering Panen (GKP) dan 6.300/Kg untuk Gabah Kering Giling (GKG). (bul)