Punya Sejarah Panjang, Cidomo Butuh Subsidi untuk Jaga Eksistensi  

0

KEBERADAAN cidomo atau dokar di Lombok memiliki sejarah yang panjang. Eksistensi cidomo dimulai sejak zaman kerajaan atau pra kemerdekaan dan masih bertahan sampai sekarang. Bedanya, jika dulu cidomo menjadi angkutan yang paling diandalkan, kini semakin tersisih oleh transportasi mesin yang kian menjamur.

Lombok Heritage and science Society (LHSS), sebuah komunitas peduli Sejarah Lombok memiliki pandangan bahwa cidomo harus tetap dilestarikan keberadaannya di tengah gempuran moda transportasi modern. Selain karena alasan sejarah karena menjadi warisan orang tua dulu, alat angkutan tradisional ini juga memiliki potensi untuk pengembangan wisata di Lombok.

Pendiri LHSS Zulhakim mengatakan, keberadaan cidomo sudah menjadi angkutan khusus, karena sudah kalah bersaing dengan angkutan mesin dengan beragam jenisnya. Cidomo sesungguhnya tak bisa beroperasi dengan skala keekonomian, karena penumpangnya yang sudah sangat terbatas, sehingga perlu intervensi berupa pemberian subsidi dan sejenisnya.

“Kalau mau melihat cidomo ini tetap ada, maka harus ada intervensi pemerintah. Misalnya melihat model pelaksanaan subsidi kendaraan mikrolet, mikrotrans di Jakarta. Kalau dibiarkan seperti sekarang, cidomo seperti hidup segan mati tak mau,” tuturnya kepada Ekbis NTB, akhir pekan kemarin.

Ia menilai, jika ada subsidi untuk cidomo, para kusir akan lebih mudah untuk diatur, karena ada pendapatan dari Pemda selain dari hasil operasional hariannya. Pembatasan zona operasional atau trayek juga relatif lebih mudah diurus jika ada perhatian pemerintah.

Keberadaan mereka juga akan lebih bagus, baik dari segi tampilan cidomo maupun kusir itu sendiri. Cidomo sebenarnya memiliki magnet, karena selain karena fungsinya sebagai alat transportasi, dia juga memiliki nilai lebih karena ada unsur nostalgia lantaran pernah menjadi andalan di masanya.

“Dengan adanya subsidi, pemerintah juga diuntungkan karena akan lebih mudah mengatur cidomo ini. Dia bisa membatasi jalur trayek misalnya, bisa memperbaiki cidomonya dan lain sebagainya,” katanya.

Zulhakim mengatakan, cidomo bisa seperti andong di Yogyakarta yang sudah difungsikan untuk melayani wisatawan yang ingin berkeliling kota. Mereka menggunakan pakaian adat, tampilan andong sangat menarik dan memiliki kesan istimewa. Ekonomi para kusir dari hasil menarik penumpang pun akan lebih bagus. Namun demikian, syaratnya yaitu pemerintah harus memberikan intervensi berupa subsidi atau pembiayaan lain agar keberadaan mereka lebih baik daripada saat ini.

“Sekali lagi, ini harus ada intervensi pemerintah dalam bentuk subsidi. Ini juga untuk menjamin cidomo ini jadi angkutan pariwisata. Sebab jika hanya melakukan imbauan, tentu susah. Tanpa perhatian pemerintah, susah bagi para kusir untuk meningkatkan diri, misalnya joknya bagus, kusir juga wangi dan lainnya” katanya. (ris)