NTB Tak Khawatir Masuknya 11 Ribu Ton Beras Impor

0

Mataram (Suara NTB)-Pemprov NTB tak khawatir dengan masuknya beras impor ke NTB sebanyak 11 ribu ton yang saat ini sedang bongkar muat di Pelabuhan Lembar. Masuknya beras ke NTB ini memang bagian dari kebijakan nasional untuk ketahanan pangan masyarakat. Hal ini dinilai cukup realistis, terlebih panen raya di wilayah NTB terlambat lantaran terdampak El Nino.

Kepala Biro Perekonomian Setda Provinsi NTB Drs H. Wirajaya Kusuma, MH mengatakan, masuknya ribuan ton beras ke NTB juga sebagai sebuah antisipasi pemerintah agar jangan sampai stok menipis yang berdampak luas pada harga beras yang tinggi. Namun demikian, Pemprov NTB meminta kepada Perum Bulog agar memaksimalkan penyerapan gabah petani di musim panen ini.

“Kita juga harus antisipatip, jangan sampai kita kekurangan stok. Tetapi kita tetap meminta dan mendorong supaya Bulog ketika sudah mulai panen agar tetap melakukan penyerapan terhadap gabah-gabah petani. Jadi penyerapannya harus maksimal, tak boleh kalah dari pengusaha-pengusaha di luar NTB,” kata Wiajaya Kusuma kepada Suara NTB, Senin, 1 April 2024.

Ia mengatakan, masuknya 11 ribu ton beras ke NTB ini juga sebagai pasokan pemerintah untuk program bantuan pangan (Bapang) di pertengahan tahun 2024 ini. Program Bapang ini bagian dari upaya pemerintah untuk menstabilisasi harga beras di masyarakat.
“(impor ini-red) tak masalah, tak berpengaruh di tingkat penjualan petani, karena ini dipergunakan untuk Bapang,” ujarnnya.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan NTB, H. Abdul Aziz, SH., MH mengatakan, masuknya 11 ribu ton beras impor ke NTB akhir Maret kemarin karena Bulog memiliki target untuk menstabilkan harga sebelum masuknya panen raya di daerah ini. Sebab ada kekhawatiran bahwa stok pangan di NTB akan menipis, sehingga didatangkan beras dari luar.

“Sehingga pemerintah mengambil kebijakan untuk menstabilisasi harga beras itu maka didatangkanlah beras dari luar,” katanya.

Sebelumnya, Kepala Pimpinan Wilayah Bulog NTB Raden Guna Dharma mengatakan bahwa impor beras 11 ribu ton yang saat ini dilakukan untuk mendukung pemenuhan bantuan pangan selama tiga bulan kedepan.

“Stok yang kita datangkan dari Vietnam ini hanya khusus untuk program bantuan pangan. Karena ini kan harus berjalan enam bulan kedepan,” ungkap Raden Guna Dharma.

Pemerintah kata Raden baru menyalurkan bantuan pangan selama tiga bulan kepada masyarakat kurang mampu. Sedangkan untuk memenuhi kebutuhan Bapang dari bulan April, Mei hingga Juni, stok beras di gudang Bulog belum mencukupi. Sehingga Bulog harus memasok beras dari luar daerah.
“Total stok beras kita dalam gudang sekarang 6 ribu ton lebih. Cukup sampai dua bulan kedepan,” katanya.

Sementara itu panen yang dilakukan oleh petani di NTB saat ini masih bersifat sporadis alias tidak merata disemua wilayah. Dia memprediksi panen raya akan berlangsung pada akhir bulan April 2024 mendatang.

Meski Bulog mendatangkan beras dari luar negeri, tapi Raden mengklaim bahwa pihaknya tetap melakukan penyerapan gabah ditingkat petani. Ditegaskan sampai saat ini Bulog telah menyerap hampir 4 ribu ton gabah para petani di NTB.(ris)