Jadi Transportasi Sosiokultural, MAS Minta Cidomo Dilestarikan

0

CIDOMO, dikenal sebagai cikar atau delman adalah alat transportasi tradisional khas di Pulau Lombok. Mulai diperkenalkan sejak zaman Belanda, cidomo kini makin terpinggirkan. Di tengah pesatnya perkembangan alat transportasi berbahan baku fosil dan listrik.

Nama cidomo sendiri merupakan akronim dari cikar, dokar, dan mobil (montor dalam bahasa Sasak), yang merujuk pada bentuknya serta fungsinya. Cikar karena fungsinya sebagai transportasi darat. Dokar karena ditarik oleh kuda. Adapun mobil karena ban yang digunakan adalah ban mobil.

Cidomo menurut Dr. H. Lalu Sajim Sastrawan, SH., M.H., dari Majelis Adat Sasak (MAS) adalah transportasi konvensional sosiokultural. Keberadaan cidomo ini erat kaitannya dengan peradaban masyarakat Lombok, khususnya.

Atas dasar ini, pemerintah perlu mengintervensi untuk menjaga kearifan lokal ini tetap dapat dipertahankan hingga cucu anak nanti. Cidomo, lanjut Lalu Sajim, tidak boleh dibiarkan beradu dengan transportasi kekinian berbasis mesin.

“Yang mesin-mesin ini kan membebani pemerintah. Subsidi, emisi. Dan tidak bisa diadu cidomo dengan transportasi mesin,” katanya.

Menurut Lalu Sajim, cidomo harus diberikan ruang khusus. Misalnya, dijadikan alat transportasi penghubung dari destinasi wisata yang satu ke destinasi wisata lain yang jaraknya relatif tidak jauh atau menjadi kendaraan khusus di desa-desa, apalagi desa tersebut adalah desa pariwisata.

“Harus diatur trayeknya seperti mengatur trayek alat transportasi lainnya. Jangan semuanya diberikan ruang kepada kendaraan mesin. Karena mesin ini juga membunuh ruang ekonomi masyarakat konvensional. Kalau yang jauh-jauh, boleh menggunakan kendaraan mesin,” ujarnya.

Karena itu, cidomo diharapkan tetap dilestarikan. Yang bisa melakukannya adalah kebijakan-kebijakan pemerintah.  “Cidomo ini harus dibranding lagi supata tetap bisa dipertahankan,” harapnya.

Makna sosio-kultural. Cidomo menjadi bagian penting dari budaya masyarakat Lombok. Simbol keberlanjutan dan kearifan lokal dalam mengelola sumber daya alam dan budaya. Sebagai alat transportasi tradisional yang digerakkan oleh kuda, cidomo juga menerapkan prinsip “green transportation” yang ramah lingkungan.

Jadi, cidomo bukan hanya sekadar alat transportasi, tetapi juga memiliki nilai-nilai sosio-kultural yang kaya dan berdampak pada masyarakat setempat.(bul)