TPID Luncurkan Warung Pangan untuk Pengendali Inflasi

0

Mataram (Suara NTB) – Bank Indonesia bersama stakeholder Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) meresmikan warung yang menjual komoditas pangan strategis. Warung percontohan di Provinsi NTB ini dinamai Warung Pantasi Mentaram (Warung Pantau Tanggap Inflasi Menuju Target Aman).

Peresmian dilakukan Kamis, 28 Maret 2024. Lokasinya di sebelah timur pasar Kebon Roek, Ampenan, Kota Mataram. Peresmian dilakukan oleh Kepala Bank Indonesia Provinsi NTB, Berry A Harahap, Wakil Walikota Mataram, TGH. Mujiburrahman, dan Kepala Biro Perekonomian Setda NTB, H. Wirajaya. Dan unsur TPID NTB dan Kota Mataram lainnya.

Warung Pantasi Mentaram ini menjual kebutuhan pangan strategis, seperti beras, cabai, minyak goreng, bawang merah, telur. Harganya dibawah harga penjualan pada umumnya. Karena komoditas pangan ini didatangkan langsung dari para petani dan binaan-binaan Bank Indonesia dan Perum Bulog.

Dalam kesempatan ini, Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTB, Berry A Harahap menyampaikan, warung ini dihadirkan sebagai bentuk kehadiran pemerintah ditengah-tengah masyarakat. “Biasanya komoditas yang harganya sering bergejolak terakhir belakangan itu beras dan lain-lain sering ada kenaikan harga. Inilah kita bikin warung Pantatsi Mentaram. Tujuan akhirnya bagaimana kita mengurangi rantai pasar, sehingga harga yang diterima konsumen dan produsen adalah harga idel,” kata Berry.

Dengan memotong rantai pemasaran, lanjut Berry, harga yang idel ini akan membantu menjaga dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. tanpa ada salah satu pihak yang dirugikan dan diuntungkan. Berry menambahkan lagi, komoditas yang dipasok di Warung Pantasi Mentara mini adalah komoditas hasil pertanian yang dikelola dengan secara organik.

Pemupukan menggunakan pupuk organik. Sehingga dijamin kualitas serta harganya yang lebih bersahabat. Karena biaya produksi dapat ditekan. “Pasokan hariannya kita bekerjasama dengan klaster termasuk secara reguler, berapa  butuhnya akan disampaikan seperti bawang dan cabai. Sementara untuk komoditi beras, gula, dan minyak kita bekerjasama dengan Bulog,” terang Berry.

Di warung Pantasi Mentaram ini, jumlah pembelian diatur untuk mengendalikan adanya pihak – pihak yang memanfaatkan warung ini untuk spekulasi. Misalnya, pembelian dengan borongan kemudian dijual kembali dengan harga yang lebih tinggi.

“Memang sebenarnya tidak dibatasi untuk jumlah pembelian, cuma kita harus hati-hati agar tidak menyebabkan mengganggu ketersediaan barang,” demikian Berry. Sementara itu, Wakil Walikota Mataram, TGH. Mujiburrahman menyampaikan, Warung Pantasi Mentaram ini dimaksud untuk memantau ketersedian stok dan juga keterjangkauan harga. Bagian dari upaya kehadiran pemerintah secara keseluruhan untuk membantu mengendalikan inflasi, kenaikan harga, agar bisa dijangkau oleh warga masyarakat.

“Jadi warung ini akan menjadi mitra seluruh warga yang berpartisasi dalam kegiatan ekonomi di sini supaya bersama sama untuk menjaga kestabilan harga supaya bisa dijangkau oleh warga. Kita mengetahui bahwa inflasi di Kota Mataram ini utamanya disebabkan oleh kelompok makanan dan minuman, dalam pengedalaian inflasi, TPID telah melakukan banyak kegiatan secara rutin, dan ini akan terus dilakukan bagiama stok tersedia terjangkau, distribusi bisa disediakan dengan lancar dan komunikasi lebih di efektifkan.

Artinya bagaimana perkembangan harga agar terus disampaikan melalui komunikasi kominukasi yang intensif kepada  warga masyarakat sehingga tidak terjadi kepanikanan dalam berbelanja,” ujarnya. Pemkot Mataram, Pemprov NTB bekerjasama dengan BI, Bulog dan beberapa lembaga terkait lainnya di TPID akan tetap hadir untuk berupaya menjamin ketersedian stok dan keterjangkauan harga.

Salah satu pembeli di warung ini pasca diluncurkan, Sri Endang, mengaku sangat terbantu dengan adanya Warung Pantasi Mentaram. “Saya beli bawang merah dan beras, harganya cukup stabil dan bagus. Ini untuk kebutuhan Lebaran. Beras ini untuk zakat fitrah, dan bawang merahnya sangat murah dibandingkan di pasar. Di sini hanya Rp14.000 per kilogram, kalau di pasar Rp22.000-23.000 per kilogram,” ungkap Endang. (bul)