Rata-rata Pernikahan di NTB Kini di Usia 22 Tahun

0

Mataram (Suara NTB) – Menurut data BPS angka pernikahan terus saja menurun selama 10 tahun terakhir, di tahun 2023, angka pernikahan di Indonesia berada pada angka 1.577.255, sedangkan di tahun sebelumnya angka pernikahan Indonesia mencapai 1.705.348.  Penurunan angka pernikahan ini terjadi serentak di beberapa daerah di Indonesia, begitu pun di NTB.

Kepala BKKBN, H. Lalu Makrifuddin mengatakan bahwa angka pernikahan di NTB menurun. Namun rata-rata usia menikah kini meningkat ke usia 22 tahun.

“Menurut survey kita, terjadi sedikit penurunan jumlah total pernikahan, menurut pendataan keluarga kemarin itu kita sudah 22 tahun rata-rata usia menikah. Sebelumnya kemarin rata-rata 20 tahun, sebelumnya pernah 19, malah pernah 18 tahun. Sehingga ada peningkatan usia menikah,” katanya.

Selanjutnya, terkait dengan alasan mengapa terjadi peningkatan usia pernikahan di NTB, ia mengaku bahwa hal ini disebabkan oleh berbagai faktor, salah satunya adalah karena selalu dilakukan sosialisasi-sosialisasi kepada masyarakat terkait dengan bahayanya menikah dan melahirkan di usia dini, khususnya bagi Perempuan.

“Berkat edukasi yang kita berikan karena menikah di bawah usia 19 tahun itu beresiko tinggi, kalau melahirkan pada usia di bawah 19 tahun, itu kemungkinan besar melahirkan anak stunting. melakukan hubungan seks di bawah usia 19 tahun, maka kemungkinan akan menjadi cikal bakal kanker Rahim, karena rahimnnya masih kuncup, masih mekar,” ungkapnya.

Selain dari sisi kesehatan, alasan mengapa terjadinya penurunan angka pernikahan di NTB juga karena faktor pendidikan, Makrifuddin mengatakan bahwa semakin tinggi usia menikah, maka tingkat pendidikannya semakin bagus, sehingga kini bisa dikatakan bahwa pendidikan di NTB mulai setara antara perempuan dan laki-laki.

Kemudian, jika dilihat dari faktor ekonomi, remaja-remaja khususnya remaja Perempuan cenderung mempercepat pernikahan, hal ini dikarenakan keluarga dengan keadaan ekonomi menengah kebawah melihat bahwa gadis atau anak Perempuan sebagai potensi ekonomi.

“Semakin miskin seseorang, maka yang pertama itu dia itu akan terbebas dari himpitan ekonomi, sehingga semakin miskin seseorang, anak itu menjadi beban ekonomi,” ujarnya. (era)