Tahun 2024, BAN PDM NTB Lebih Banyak Visitasi Akreditasi ke PAUD Baru

0

Mataram (Suara NTB) – Badan Akreditasi Nasional Pendidikan Anak Usia Dini, Dasar, dan Menengah (BAN PDM) NTB akan lebih banyak melakukan visitasi akreditasi ke lembaga Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) pada tahun 2024 ini. Lembaga PAUD tersebut kebanyakan merupakan lembaga baru yang belum terakreditasi.

Ketua BAN PDM NTB, Dr. Syamsul Hadi, M.Pd., kepada Suara NTB pada Kamis, 21 Maret 2024 mengatakan, data yang ada di pihakya, sasaran 1.294 satuan PAUD adalah lembaga “baru” yang belum terakreditasi. Jumlah keseluruhan lembaga yang akan divisitasi, yaitu untuk PAUD sebanyak 1.304 lembaga, Kesetaraan 28 lembaga, sekolah jenjang pendidikan dasar dan menengah (Dasmen) sebanyak 774 lembaga. “Jumlah total sasaran visitasi NTB sebayak 2.106 lembaga. Tahun ini kebanyakan PAUD baru yang divisitasi,” ungkapnya.

Menurut Syamsul Hadi, akreditasi di lembaga PAUD penting untuk dilakukan, karena PAUD merupakan fondasi awal rangkaian pendidikan. Proses pendidikan di PAUD dapat menentukan kesinambungan perkembangan anak, karena itu satuan PAUD harus memiliki standar pelayanan pendidikan bagi anak PAUD.

“Oleh karena itu akreditasi menjadi salah satu instrumen penting untuk menjaga mutu PAUD dan perlindungan layanan anak-anak PAUD,” jelas Syamsul Hadi.

Sementara jumlah asesor secara keseluruhan sebanyak 197 orang. Diketahui Badan Akreditasi Nasional Sekolah/Madrasah (BAN S/M) NTB dan BAN Pendidikan Anak Usia Dini- Pendidikan Non-Formal (PAUD PNF) NTB resmi digabung pada tahun 2024 ini. Kedua Lembaga itu digabung menjadi BAN PDM NTB. Sebelum visitasi, asesor akan diberikan penyegaran kompetensi asesor.

Penggabungan BAN PDM memberikan kepastian kontrol mutu eksternal oleh BAN PDM dari jenjang PAUD sampai jenjang menengah lebih efektif, sistematik, optimal, dan berkelanjutan. Pihaknya berharap BAN PDM dapat melaksanakan penjaminan mutu yang berkesinambungan dari jenjang PAUD sampai jenjang menengah.

“Serta mewujudkan mutu pendidikan harus berkesinambungan dari jenjang terendah sampai yang tertinggi,” ujar Syamsul Hadi.

Tujuan akhir dari rangkaian akreditasi ini untuk meningkatkan mutu pendidikan. Syamsul Hadi menekankan, untuk meningkatkan mutu pendidikan tidak bisa dilakukan secara parsial atau sendiri-sendiri. “Kita harus melakukan kerja seperti ekosistem, kita melakukan fungsi masing-masing di tujuan bersama untuk meningkatknan mutu pendidikan. Kita harus memiliki persepsi yang sama, pemahaman yang sama, dan langkah yang sama, agar kita memiliki peran dan fungsi masing-masing dalam rangka mewujudkan mutu pendidikan tersebut,” harapnya.

Pihaknya juga meminta dukungan dalam rangkaian akreditasi, terutama berkaitan dengan sosialisasi dan dorongan kepada sekolah untuk mengikuti akreditasi. “Banyak tantangan yang kami alami atau dapatkan di lapangan. Di tingkat satuan pendidikan kadang banyak ditemukan satuan pendidikan yang enggan diakreditasi, barangkali pemahaman akreditasi yang masih kurang,” pungkas Syamsul Hadi. (ron)