RSUD Mataram Segera Uji Coba Layanan Bayi Tabung

0

Mataram (Suara NTB)-Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Mataram, segera melakukan uji coba program layanan bayi tabung yang bisa menjadi layanan satu-satunya dan pertama di NTB.

Direktur Utama (Dirut) RSUD Kota Mataram, dr. Hj. Ni Ketut Eka Nurhayati di Mataram, Kamis, 21 Maret 2024 , mengatakan, kegiatan uji coba layanan bayi tabung jadwalkan pada bulan April-Mei 2024. Uji coba bayi tabung akan kita laksanakan selama dua bulan,” katanya.

Setelah uji coba, lanjutnya, layanan bayi tabung ditargetkan mulai buka secara penuh pada bulan Juni 2024.

Ia mengatakan, uji coba akan dilakukan terhadap sistem operasi laboratorium karena persiapan laboratorium harus benar-benar maksimal. “Laboratorium, harus kita pastikan berfungsi maksimal dan tidak boleh main-main,” katanya.

Selain itu, akan dilakukan pelatihan terhadap semua sumber daya manusia (SDM) pendukung serta akan digelar seminar awal sebagai tahap sosialisasi dan informasi kepada masyarakat bahwa RSUD Mataram sudah punya laboratorium bayi tabung.

“Untuk peminat bayi tabung ini sudah ada dari pasien praktek saya di klinik,” kata Eka yang juga membuka praktek spesialis kandungan.

Sementara menyinggung biaya, Eka mengatakan, untuk biaya layanan bayi tabung sekitar Rp50 juta hingga Rp100 juta.

Besaran biaya yang dikeluarkan tergantung dari usia apalagi usia pasien sangat berpengaruh terhadap tingkat keberhasilan bayi tabung. Apalagi kalau usia sudah di atas 30 tahun sebab cadangan sel telur berkurang.

“Angka keberhasilan bayi tabung, sekitar 40 persen. Tapi untuk mengoptimalkan, kita dukung dengan persiapan-persiapan maksimal,” katanya.

Lebih jauh Eka mengatakan, apabila layanan bayi tabung di RSUD Kota Mataram sudah dibuka, maka akan menjadi pusat layanan bayi tabung satu-satunya di wilayah NTB dan NTT (Nusa Tenggara Timur).

Namun demikian, hal itu bukan menjadi tujuan utama melainkan RSUD Kota Mataram ingin membantu pasangan suami istri yang belum memiliki keturunan di daerah ini. “Layanan ini kita buka semata-mata karena kebutuhan masyarakat,” katanya.

Di sisi lain, lanjutnya, layanan bayi tabung bisa menjadi potensi pendapatan daerah, sehingga pihaknya tidak ingin potensi pendapatan itu di bawa ke luar daerah seperti ke Bali, Surabaya dan Bandung.

“Banyak pasien-pasien saya yang ingin memiliki keturunan, saya rujuk ke sejumlah rumah sakit di luar kota itu, untuk ikut program bayi tabung,” katanya. (ant)