Antisipasi Darurat Pangan

0

PARA petani di Provinsi NTB yang menggarap lahan tadah hujan atau lahan kering akan mendapatkan bantuan dari Kementerian Pertanian (Kementan) berupa ribuan pompa air. Kebijakan ini dalam rangka mengubah lahan kering menjadi lahan produktif sehingga produktifitas padi semakin bagus.

Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) NTB Muhammad Taufiek Hidayat mengatakan, dengan bantuan ribuan pompa air ini, lahan pertanian yang awalnya satu kali tanam, bisa menjadi dua kali tanam. Hal ini bagian dari program darurat pangan dari Kementan.

“Jadi lahan-lahan kering akan diberi pompanisasi. Itu lumayan banyak, puluhan ribu hektare pada lahan tadah hujan di NTB. Akan dibantu dengan pompanisasi oleh Kementan,” kata Muhammad Taufiek Hidayat kepada wartawan, Kamis, 21 Maret 2024.

Ia mengatakan, luas sawah tadah hujan yang berpotensi pompanisasi di NTB seluas 97.519 hektare. Jumlah pompa yang eksisting sekarang sebanyak 954 unit, sementara kebutuhan pompa sebanyak 9.883 unit. Sehingga pengadaan tambahan pompa untuk NTB sebanyak 8.198 unit.

Insyaallah tahun ini kita akan banjir bantuan dalam upaya antisipasi darurat pangan, karena NTB salah satu dari 10 provinsi lumbung pangan nasional, kata Taufieq Hidayat.

Ia mengatakan, dalam lahan seluas 10 hektare, Kementan akan memberikan bantuan satu unit pompa. Bantuan ini sendiri diperkirakan akan turun pada bulan April mendatang. “Ada ribuan pompa untuk NTB. Diverifikasi dulu datanya selama seminggu ini. Ini bantuan dari Kementerian Pertanian untuk program darurat pangan,” terangnya.

Kementan meminta kepada pemerintah daerah untuk melakukan pendataan petani yang berada di daerah tadah hujan dan memiliki sumber air di dekatnya. Kita lagi melakukan verifikasi data dalam Minggu ini. Ini untuk petani di daerah tadah hujan yang ada sumber air dikasih pompa. Jadi satu pompa untuk 10 hektare. Kalau arealnya 50 hektare, maka diberikan 5 pompa,” tandas Taufiek.

Adapun air irigasi yang dibutuhkan oleh petani disediakan oleh Balai Wilayah Sungai (BWS). Petani bisa mendapatkan air dari sungai dengan pengaturan terlebih dahulu agar sama-sama mendapatkan pasokan air dengan jumlah yang cukup. Bisa juga dengan menggunakan air tanah untuk dialirkan ke area persawahan yang sedang digarap.

Menteri Pertanian (Mentan) Dr. Ir. H. Andi Amran Sulaiman sebelumnya telah mengunjungi NTB bulan Januari lalu dalam rangka menyerap aspirasi para petani. Saat berdialog dengan para petani, Sebagian besar petani meminta tambahan pupuk dan air irigasi saat menggarap lahan.

Terkait dengan hal tersebut, Mentan telah berhasil mendapatkan tambahan subsidi pupuk dari Presiden Jokowi sebesar Rp14 triliun untuk meningkatkan produksi padi dan jagung Indonesia. Dalam arahannya, Mentan Amran meyakini bahwa Lombok menjadi salah satu kunci dari keberhasilan swasembada padi dan jagung.

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) pada tanggal 15 November 2023, NTB menyumbang 1,2 juta ton jagung dari total 14,4 juta ton produksi jagung dan menjadi pemasok jagung terbesar ke-4 di Indonesia setelah Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Sumatera Utara.

Dalam kunjungannya itu, Kementerian Pertanian memberikan bantuan benih padi seluas 11,000 hektare dan benih jagung seluas 8,000 hektare senilai Rp10,94 miliar untuk Kabupaten Lombok Tengah. Hal ini termasuk dalam bantuan nenih padi seluas 38,500 hektare dan benih jagung seluas 176,000 hektare senilai Rp171,49 miliar serta benih sumber padi sebanyak 2,5 ton untuk Provinsi NTB.

Selain bantuan benih padi dan jagung, Kementan juga memberikan bantuan benih hortikultura berupa benih buah, cabai, dan bawang putih untuk Provinsi NTB.(ris)