BPBD Peroleh Bantuan Rp2 Miliar untuk Pembangunan Pusdalop

0

Mataram (Suara NTB) – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Mataram, memperoleh bantuan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sekitar Rp1,5 miliar-Rp2 miliar untuk pembangunan pusat pengendalian dan operasional tahun 2024. Bantuan gedung pemantau kebencanaan diberikan karena pertimbangan Mataram rawan tsunami dan gempa bumi.

Kepala Pelaksana BPBD Kota Mataram, Mahfuddin Noer menjelaskan, merujuk pada tahapan Proyek Prakarsa Ketangguhan Bencana Indonesia (Indonesia Disaster Resilience Initiatives Project) dijadwalkan mulai tahun 2022-2025. Program ini telah berjalan di Kota Mataram dan akan berakhir tahun 2024. Sebagai tindaklanjut program Idrip, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melalui bantuan Bank Dunia akan membangun pusat pengendalian dan operasional (Pusdalop) dan tower early warning system. “DED sudah jadi termasuk persiapan lahan, administrasi dan lain sebagainya,” terang Mahfuddin ditemui pada Selasa, 19 Maret 2024.

Bantuan ini digelontorkan oleh pemerintah pusat di 30 kabupaten/kota di Indonesia. Khusus di wilayah Nusa Tenggara Barat, tiga kabupaten yang mendapatkan bantuan yakni, Kota Mataram, Kabupaten Lombok Tengah, dan Kabupaten Lombok Utara.

Untuk pembagunan gedung pusdalop dan delapan tower early warning system, pemerintah pusat diperkirakan mengalokasikan anggaran Rp1,5 miliar-Rp 2 miliar lebih. “Lokasi disesuaikan dengan permintaan pusat dengan menyediakan lahan seluas 17×22 meter atau 4 are. Banyak lahan di Mataram setelah dicek ternyata harus berada di Kantor BPBD,” katanya.

Pertimbangan teknis pemerintah pusat membangun gedung pemantau kebencanaan diterangkan Mahfuddin, pertama, Kota Mataram memiliki kriteria sebagai ibukota provinsi yang tentunya konsentrasi masyarakat berada di kota. Kedua, sebagai pusat kota maka mobilitas masyarakat akan tinggi, sehingga Kota Mataram harus tangguh menghadapi potensi ancaman bencana. Pertimbangan terakhir, sesuai pemetaan BNPB bahwa Kota Mataram, rawan terjadi tsunami dan gempa bumi. “Secara langsung Kota Mataram berbatasan dengan laut dan ada lempeng aktif yang sewaktu-waktu bisa bergeser,” terangnya.

Fungsi utama gedung pusdalops, ini adalah sebagai pusat pengendali serta konsentrasi kegiatan sifatnya perencanaan kebencanaan. Ruang pantau dan lain sebagainya.

Selain gedung pusdalops lanjutnya, delapan tower peringatan dini bencana akan dipasang di delapan titik. Lokasinya berada di Kelurahan Jempong Baru, Tanjung Karang, Tanjung Karang Permai, Kekalik Jaya, Ampenan Selatan, Banjar, Bintaro, dan Ampenan Tengah.

Kedepannya, pihaknya akan menggelar pelatihan untuk mempersiapkan SDM yang mampu mengoperasikan sistem di pusat pemantauan kebencanaan tersebut. “Kita akan mengisi SDM yang sudah ada di BPBD. Satu bidang menangani kebencanaan maka secara otomatis akan menjabat sebagai manager di pusdalops,” terangnya.

Mahfuddin berharap, pasca selesainya program Idrip dan delapan kelurahan telah bencana kelurahan tanggap bencana bisa berkembang menjadi 16 kelurahan, sehingga dua kecamatan mendeklarasikan diri sebagai kecamatan tangguh bencana. (cem)